DPRD DKI Jakarta 'menantang' Risma untuk ikut memperebutkan kursi DKI 1 di Pilgub selanjutnya. Kedatangan Risma diharapkan dapat menuntaskan masalah sampah di Ibu Kota.
- Elvariza Opita
- Selasa, 30 Juli 2019 - 15:29 WIB
WowKeren - Kiprah Wali Kota Tri Rismaharini dalam mengatasi berbagai permasalahan di Surabaya memang tak perlu diragukan lagi. Bahkan prestasi ini membuat Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapem Perda) DKI Jakarta melakukan studi banding ke Surabaya.
Namun rupanya Bapem Perda juga hadir dengan tantangan, yakni "mengundang" Risma untuk ikut memperebutkan kursi DKI 1 dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) mendatang. Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Bestari Barus menilai Risma punya potensi untuk menuntaskan masalah sampah di Ibu Kota.
Menanggapi "tawaran" tersebut, Risma mengaku takut. Ia menilai permasalahan sampah di Ibu Kota sudah menakutkan dan mengkhawatirkan. Mengapa demikian?
"Ya aku ngomong medeni (menakutkan)," tutur Risma ketika ditemui di Kebun Bibit II Wonorejo, Selasa (30/7). "Gimana nggak takut? Lha katanya Bantar Gebang (TPA di Bekasi) 2021 tutup, sedangkan (pembangunan TPA lain) baru selesai 2022."
"Lha terus selama satu tahun gimana? Sehari saja bisa messy (kacau), nggak keangkut sampahnya," imbuhnya. "Itu pun daya tampungnya tahun 2022 itu hanya 2.200 ton, sedangkan sampahnya (mencapai) 7.500 ton."
Dalam diskusinya dengan Bapem Perda DKI Jakarta pun, Risma mendesak agar pembangunan TPA di Ibu Kota dipercepat. Menurutnya APBD DKI Jakarta lebih dari cukup untuk membangun TPA tersebut, sehingga tak ada alasan untuk menunda.
"Kemarin saya ngomong itu harus dipercepat. Karena mereka (Pemprov DKI Jakarta) punya uang," katanya. "Sebetulnya tidak ada alasan tidak bisa. Mereka lho SILPA Rp 17 triliun sampai Rp 20 triliun."
"Kalau itu bisa dipakai, itu tidak usah pakai investasi tendernya. Jadi langsung pakai APBD aja," sambungnya. "(Yang penting cepat) karena kalau nggak cepat medeni. Coba bayangkan sampah segitu banyak."
Lebih lanjut, ia pun menjelaskan bukan prioritas Pemprov DKI untuk mengubah sampah menjadi listrik. Sekalipun itu merupakan rencana jangka panjang pengelolaan sampah, namun saat ini yang terpenting adalah menentukan lokasi untuk menampung sampah-sampah tersebut.
"Sudah lah (soal) nanti hasilnya listrik. Tapi yang terpenting menyelesaikan sampahnya," pungkasnya. "Ini menakutkan lho, sampah itu kalau tidak dikelola dengan baik. Itu penyakit, banjir, macam-macam, bau, coba bayangin kalau nggak keangkut."
(wk/elva)