Koordinator Ormas Pengepung Asrama Mahasiswa Papua Minta Maaf
Nasional
Demo Rasisme Papua

Tri Susanti mengaku pihaknya hanya ingin sang saka turut berkibar di asrama tersebut. Oleh karenanya ia membantah adanya tindakan pengusiran mahasiswa, apalagi dengan kata-kata bernada rasisme, pada malam kejadian.

WowKeren - Polemik tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya pekan lalu masih ramai dibicarakan. Apalagi kedua insiden ini menyebabkan beberapa kota besar di Papua harus lumpuh akibat adanya protes besar-besaran oleh warga setempat.

Sebagai pengingat, asrama mahasiswa Papua di Surabaya dikepung oleh sejumlah ormas pada Jumat (16/8) malam. Pengepungan itu diduga karena beredarnya gambar yang menunjukkan bendera merah putih di asrama dibuang ke selokan oleh para penghuni. Namun belakangan dugaan ini dimentahkan oleh para mahasiswa.


Menanggapi permasalahan ini, akhirnya perwakilan ormas di Surabaya buka suara. Koordinator Lapangan Aksi Ormas Surabaya, Tri Susanti, mengaku meminta maaf atas tindakan sejumlah oknum yang melontarkan kata-kata tidak etis kepada mahasiswa Papua saat pengepungan malam itu.

Menurutnya, kedatangan ormas ke asrama kala itu hanya untuk membela bendera merah putih. Sebab, menurutnya, pihaknya menerima potret yang menunjukkan tiang bendera di depan asrama dirusak dan benderanya dibuang di selokan.

"Kami atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas menyampaikan permohonan maaf," kata wanita yang akrab dipanggil Mak Susi itu di Mapolda Jatim, Selasa (20/8). "Apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan itu."

Ia pun membantah kalau ada pengusiran yang dilakukan ormas kepada mahasiswa Papua. Kembali ia menegaskan bahwa niat kedatangannya dan ormas adalah soal bendera yang tidak dikibarkan sebagaimana mestinya. Ia mengaku hanya berharap sang saka turut berkibar di asrama tersebut.

"Jadi kami tidak berkeinginan untuk mengusir mereka. Kami hanya ingin menegakkan bendera merah putih di asrama tersebut," katanya, dilansir dari Suara Surabaya. "Selebihnya itu bukan urusan kita."

"Kalau dibilang bahwa masyarakat Surabaya terjadi bentrok atau ada teriakan rasis, itu sama sekali tidak ada," pungkasnya. "Kami mohon juga pada rekan-rekan bahwa ormas dan masyarakat Surabaya tujuannya ke sana hanya untuk merah putih."

Di sisi lain, nama Tri Susanti sempat meramaikan jagad maya pada Selasa (20/8). Bahkan namanya sempat masuk di daftar sepuluh besar trending topic Indonesia. Pasalnya Susi diduga menyebarkan hoaks terkait perusakan bendera merah putih yang menjadi cikal-bakal insiden pengepungan asrama.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts