Terus Didesak KontraS, Kompolnas Sebut Hanya Menghakimi Tanpa Melihat Fakta
Nasional
Rusuh Demo Mahasiswa

Kompolnas akhirnya buka suara usai didesak terus oleh KontraS terkait penindakan kasus kematian mahasiswa pada aksi demo di sejumlah daerah bulan lalu. Komisioner Kompolnas Pungki mengatakan agar KontraS berhenti menghakimi pihaknya.

WowKeren - Demonstrasi mahasiswa di Kendari bulan lalu masih menyisakan duka. Pasalnya, dalam aksi demo tersebut telah memakan korban meninggal salah satunya Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas Halu Oleo.

Disebutkan jika kematian Yusuf disebabkan oleh polisi yang membawa senjata api saat mengawal demonstrasi yang berujung ricuh tersebut. Karena itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) terus mendesak pihak kepolisian untuk tidak pasif dalam menangani kasus tersebut.

Menanggapi hal tersebut Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Pungki Indarti menilai jika pernyataan KontraS tersebut bukanlah sesuatu yang adil. "KontraS tidak tahu apa yang dilakukan Kompolnas. Jadi KontraS sudah bertindak tidak adil karena menghakimi tanpa melihat fakta," ujar Pungki dilansir Tempo, Selasa (15/10).

Pungki mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk membantu penanganan kasus kekerasan tersebut. Ia telah mendesak Divisi Profesi dan Pengamanan Polri untuk menginvestigasi semua kasus dugaan kekerasan yang menimbulkan korban meninggal dan luka.


"Kami juga mengawasi prosesnya, serta berkomunikasi dengan Kepala Kepolisian RI, Inspektur Pengawasan Umum, dan yang lainnya. Jadi KontraS jangan seenaknya mengatakan kami pasif," kata Pungki. Ia pun berpesan kepada KontraS jika ingin mengetahui sesuatu bisa langsung bertanya kepada pihaknya sehingga tidak menyebabkan fitnah. "Jangan buat statement tidak berdasar dan cenderung fitnah," ucapnya.

Dalam konferensi pers 14 Oktober 2019 lalu, KontraS mengkritik Kompolnas karena dianggap tidak maksimal mengusut dugaan tindakan represif kepolisian, terutama saat mengamankan unjuk rasa yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia beberapa waktu lalu. Bahkan pihak Kontras juga mengatakan agar pihak kepolisian bubar saja jika masih belum bisa menyelesaikan kasus tersebut.

"Kompolnas bubar ajalah kalau terus kayak gini. Begitu juga Komnas HAM lalu Ombudsman," ujar Koordinator KontraS, Yati Andriyani di kantor KontraS, Jakarta Pusat. "Kalau ada laporan baru turun investigasi ya mohon maaf, bubar aja."

Sebelumnya, KontraS telah menemukan fakta terkait kematian Yusuf Kardawi diduga akibat penggunaan senjata api. Jika penemuan ini benar, maka Yusuf Kardawi menambah daftar mahasiswa tewas dengan senjata api. Hal ini karena mahasiswa lainnya yaitu Randi juga telah dinyatakan tewas sebelumnya setelah terkena tembakan.

"Jadi kami meragukan bahwa dia (Yusuf Kardawi) meninggal itu akibat luka pertamanya karena pemukulan," terang Kepala Divisi Pembelaan HAM KontraS Arif dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (14/10). "Ada dugaan, dia jatuh tersungkur itu karena adanya dugaan penembakan."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts