Pelaku Bom Medan Disebut Kerap Besuk Napi Teroris di Tanjung Gusta
Nasional
Teror Bom Polrestabes Medan

Polisi telah menangkap dan menetapkan sejumlah pelaku jaringan teror yang terlibat dalam peristiwa bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11). Para pelaku tersebut diketahui kerap mengunjungi napi teroris di Lapas Tanjung Gusta Medan.

WowKeren - Polisi telah menangkap sejumlah pihak yang bertanggung jawab atas insiden bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11) lalu. Diketahui jika polisi telah menetapkan sebanyak 46 orang sebagai tersangka terkait kasus ini.

Ke-46 orang itu ditangkap di beberapa wilayah, seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Setelah penangkapan tersebut, polisi pun melakukan pemeriksaan kepada para tersangka.

Disebutkan jika para pelaku tersebut kerap mengunjungi narapidana (napi) teroris di Lapas Tanjung Gusta Medan. Namun pada saat itu petugas belum bisa menjerat mereka karena belum adanya aksi teror.

"Kita mendeteksi beberapa pelaku ini sering mengunjungi Lapas Napiter (Narapidana Teroris) di sini," kata Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, di Medan, Selasa (19/11). Selain itu, pelaku yang diamankan oleh polisi tersebut diketahui sering mengikuti pengajian eksklusif dan berlatih di Tanah Karo.


"Sebenarnya kita juga sudah tahu. Hanya, kalau mereka belum melakukan aksi kita belum bisa melakukan tindakan," jelas Agus. "Setelah mereka melakukan aksi kita lakukan pendalaman ternyata kelompok mereka seperti itu. Di Tanah Karo ada beberapa kali mereka berlatih."

Sebelumnya telah diberitakan jika Tim Densus 88 Antiteror dan Polda Sumatera Utara bahkan telah meringkus guru ngaji berinisial SA yang diduga menjadi guru spiritual pelaku bom bunuh diri Polrestabes Medan tersebut. "Guru mengaji dari pelaku RMN juga sudah ditangkap," terang Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto, pada Senin (18/11). Selain itu, Agus juga mengaku bahwa sebanyak 23 terduga teroris sudah diamankan di Sumut dan Aceh.

Menurut Agus, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini, banyak orang yang mempelajari agama melalui media sosial. Bukannya belajar langsung kepada imam-imam yang ada di Indonesia.

Meski demikian, Agus tidak menjelaskan secara rinci apakah kelompok teror ini memiliki target lain. Ia hanya menyebut bahwa para pelaku teror dapat melakukan berbagai tindakan dan sasarannya bisa di mana saja.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts