Sri Mulyani Geram Perizinan di Kemendag Masih 'Ruwet Bundet Mampet'
Instagram/smindrawati
Nasional

Menteri Keuangan menyatakan pemerintah berupaya memberikan suntikan-suntikan dengan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk menjaga kondisi ekonomi tetap stabil.

WowKeren - Kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian juga turut mempengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri. Seperti diketahui, perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok beberapa waktu lalu sempat menjadi pukulan bagi perekonomian dunia.

Terbaru, adalah wabah virus corona. Oleh sebab itu, pemerintah berusaha mengendalikan keadaan ini dengan membuat berbagai stimulus melalui kebijakan yang dikeluarkannya. Diketahui, wabah corona membuat industri pariwisata di Indonesia menjadi babak belur. Tingkat kunjungan wisata yang menurun membuat sejumlah pelaku usaha di bidang itu terkena imbasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah telah berupaya memberikan suntikan-suntikan dengan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk menjaga kondisi perekonomian tetap stabil. Namun sayangnya, hal ini justru tidak dibarengi dengan komitmen di sektor perdagangan. Menurutnya, perizinan di sektor ini masih belum efisien.

"Monetary policy sudah relaksasi, fiskal coba injeksi ekonomi lewat APBN," kata Sri Mulyani di Kemendag, Kamis (5/3). "Tapi di sektor perdagangan masih ruwet bundet mampet, ya nanti mampet saja."


Padahal, Kementerian Perdagangan memiliki peranan yang penting untuk mendukung ekspor dan impor Indonesia. Pasalnya, hampir semua perizinan untuk kelancaran kegiatan ekspor impor ada di tangan Kemendag.

"Jangan underestimate peranan bapak ibu untuk buat ruwet bundet mampet," ujar Sri Mulyani. "Don't estimate power of Kemendag. Sangat powerful."

Oleh sebab itu, ia meminta Kemendag juga mendukung kebijakan fiskal terutama dalam mendorong ekspor Indonesia. Hal itu bisa dilakukan dengan Direktorat Jenderal bea dan Cukai (DJBC) untuk mempercepat proses ekspor. Ia ingin agar perizinan dibuat lebih efisien dan simpel, tidak perlu melalui proses panjang yang justru akan memakan waktu hingga tidak efisien.

"Jadi tolong teman-teman Kemendag juga lihat, masak harus pergi ke Jalan Ridwan Rais (Kantor Kemendag), masak dari Natuna ke sana (Ridwan Rais)," tegas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut. "Kalau hanya minta surat kan bisa WhatsApp, internet, dan DIM program auto approve."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait