Presiden Amerika Serikat tersebut berharap umat muslim akan menerapkan imabuannya ketika Ramadan, sama seperti yang diberlakukan kepada umat kristiani saat merayakan Paskah.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 20 April 2020 - 09:55 WIB
WowKeren - Donald Trump baru saja memberikan anjuran baru untuk seluruh umat muslim di AS jelang bulan suci Ramadan. Presiden Amerika Serikat tersebut berharap umat muslim di AS akan menerapkan standar jarak sosial ketika Ramadan, sama seperti yang diberlakukan kepada umat kristiani saat merayakan Paskah.
Trump menyatakan hal tersebut usai diminta tanggapan terkait pertanyaan dari kelompok konservatif soal peluang muslim AS diperlakukan yang sama seperti umat kristiani yang melanggar peraturan saat Paskah.
Diketahui pada perayaan Paskah lalu, sejumlah layanan ibadah kristiani ilegal masih ditemukan dan melanggar peraturan jarak sosial yang diterapkan oleh pemerintah AS. "Saya harus katakan bisa ada perbedaan," kata Trump kala jumpa media harian terkait wabah virus corona pada Sabtu (18/4) waktu setempat di Washington D.C.
"Dan kita harus melihat apa yang akan terjadi. Karena saya telah melihat perbedaan besar di negara ini," lanjut Presiden yang bakal melaju lagi untuk Pilpres AS 2020 tersebut. "Mereka (umat kristiani yang melanggar jarak sosial) sengaja mencari gereja, namun mereka (muslim) tidak mencari masjid," tambahnya.
Ramadan di Amerika Serikat diperkirakan jatuh pada satu setengah minggu setelah Paskah, atau pada pekan keempat April 2020. Saat ditanya wartawan apakah ada peluang para imam masjid melanggar peraturan jarak sosial tersebut seperti kejadian pada Paskah, Trump menjawab "Tidak, saya tidak berpikir begitu," terangnya, seperti dikutip dari CNN.
"Saya seseorang yang percaya akan iman. Dan yang penting bukanlah apa iman kalian. Tetapi politisi kita tampaknya memperlakukan agama yang berbeda dengan cara yang sangat berbeda," imbuhnya lagi.
Pernyataan Trump ini tentunya cukup menarik, mengingat sebelumnya ia dikenal sebagai sosok anti-muslim, dengan retorikanya kala kampanye dan kebijakan pertama usai menjabat di Gedung Putih adalah melarang kedatangan orang dari negara mayoritas muslim.
Sebagai informasi tambahan, pekan lalu seorang pastor di Virginia meninggal dunia akibat virus corona usai menentang peraturan jaga jarak sosial dan masih menyelenggarakan pertemuan ibadah kala Paskah. Selain itu, sejumlah pastor di gereja-gereja besar di Florida dan Louisiana telah ditangkap atas tuduhan pelanggaran ringan karena melanggar perintah tetap tinggal di rumah.
Sementara itu, lembaga muslim di Amerika, Islamic Society of North America, bersama dengan para ahli medis muslim telah meminta penghentian sementara peribadatan massal dan pertemuan-pertemuan lainnya.
Saat ini kasus COVID-19 di Amerika Serikat sendiri telah menembus angka 700 ribu dan memaksa seluruh komunitas agama menghentikan peribadatan massal mereka dan melakukannya sendiri-sendiri di rumah.
(wk/luth)