Badan Pusat Pengendalian Racun Kota New York dan beberapa negara bagian AS lain melaporkan telah menangani lonjakan kasus keracunan sejak Trump melontarkan pernyataan kontroversial tersebut.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 27 April 2020 - 15:32 WIB
WowKeren - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai kontroversi usai mengusulkan agar pasien virus corona (COVID-19) mendapatkan suntikan disinfektan. Meskipun Trump telah menyatakan bahwa usulannya tersebut hanyalah sarkasme, namun pernyataannya telah menimbulkan masalah. Terlebih, AS mencatatkan kenaikan kasus keracunan usai sang Presiden mengeluarkan usulan kontroversial tersebut.
Dilansir dari Independent.co.uk pada Senin (27/4), Badan Pusat Pengendalian Racun Kota New York melaporkan telah menangani lebih dari 30 kasus keracunan, sejak Trump melontarkan pernyataan kontroversial tersebut. Badan Pusat Pengendalian Racun melaporkan menerima sembilan kasus keracunan akibat terpapar cairan Lysol, sebuah produk disinfektan buatan perusahaan AS. Mereka juga menerima laporan 10 laporan keracunan cairan pemutih dan 11 kasus terpapar cairan pembersih rumah tangga.
Meski begitu, sejauh ini belum ada laporan kematian atau orang yang dirawat di rumah sakit akibat keracunan bahan disinfektan tersebut. Jumlah itu meningkat dibandingkan jumlah kasus keracunan yang ditangani Kota New York di periode yang sama pada 2019 lalu yakni sebanyak 13 kasus.
Sementara itu, pernyataan Trump memang memicu gejolak di kalangan warga AS. Bahkan di Maryland, Badan Penanganan Keadaan Darurat negara bagian itu menerima 100 panggilan telepon yang menanyakan tentang saran sang presiden. Hal tersebut pun mau tak mau membuat mereka menerbitkan peringatan bagi warga terkait bahaya mengkonsumsi produk disinfektan dalam kondisi dan dengan cara apa pun.
Hal serupa juga terjadi pada sejumlah badan penanganan racun di negara bagian Illinois dan Kentucky, di mana orang-orang menanyakan terkait penggunaan bahan disinfektan. Atas hal ini, mayoritas negara bagian di AS langsung menyusul Maryland untuk menerbitkan peringatan soal bahaya penggunaan disinfektan pada tubuh.
Selain itu, Asosiasi Pusat Pengendalian Racun AS (AAPCC) mengonfirmasi bahwa memang terjadi kenaikan laporan di seluruh negeri secara umum sejak Januari lalu. "Selama bulan Januari-Maret 2020 badan pengendalian racun menerima 45.550 panggilan terkait dengan cairan pembersih sebanyak 28.158, disinfektan sebanyak 17.392 kasus. Ini menggambarkan peningkatan keseluruhan 20,4 persen dan 16,4 persen jika dibandingkan periode waktu yang sama pada 2019," ucap AAPCC.
AAPCC menegaskan meski belum ada bukti bahwa peningkatan kasus keracunan akibat disinfektan berhubungan dengan COVID-19, namun mereka mencatat ada peningkatan penggunaan dan pembelian produk pembersih tersebut.
Di sisi lain, pernyataan kontroversial Trump bermula saat sang Presiden mengusulkan untuk menyuntikkan disinfektan pada pasien COVID-19 pada Kamis (23/4) lalu. Trump menyatakan disinfektan bisa melawan virus dalam satu menit. "Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk seperti itu, dengan menyuntikkan (disinfektan) ke dalam atau membersihkannya?" katanya.
Sontak saja, pernyataan Trump tersebut mengundang beragam komentar dari para dokter di media sosial. Kebanyakan dari mereka memberi peringatan dan memohon agar tidak mecoba pengobatan sendiri di tengah pandemi COVID-19 yang terjadi.
(wk/luth)