Tak Hanya Data Pengguna Tokopedia, 'Darah Pasien Corona' Juga Dijual di Dark Web
Dunia

Vaksin serta plasma darah dari pasien COVID-19 yang sembuh rupanya dijual di dark web. Dalam situs tersebut 'vaksin' corona dibandrol dengan kisaran Rp 5 juta hingga ratusan juta Rupiah.

WowKeren - Aplikasi e-commerce Tokopedia baru-baru ini menjadi sorotan lantaran puluhan juta data penggunanya dikabarkan bocor dan dijual di dark web. Dark web atau darknet sendiri merupakan sebuah bagian internet yang tidak bisa diakses oleh sembarang orang.

Untuk mengakses dark web, diperlukan software tertentu yang bisa membuatmu anonim dan tidak dapat dilacak. Diketahui, tak hanya data yang dijual di situs mengerikan tersebut namun juga ada benda yang diklaim sebagai darah pasien COVID-19 yang beredar di sana.

Australian Institute of Criminology merilis laporan dari Australian National University's Cybercrime Observatory. Mereka mensurvei 20 pasar dark web terkait peralatan peralatan medis bulan ini. Dilansir dari News.com Australia, terdapat barang yang diduga vaksin palsu yang diklaim dibuat dari darah pasien COVID-19 yang sudah sembuh tengah dijual di situs gelap tersebut.

Alasan kenapa barang tersebut dicap palsu lantaran hingga saat ini vaksin corona masih belum ditemukan. Terdapat 6 persen dari 645 daftar barang di 12 pasar online ilegal yang merupakan vaksin corona palsu.


'Antidote COVID-19 tersedia dari China', 'Vaksin obat COVID-19, jangan bilang-bilang,' begitulah beberapa kalimat iklan di dark web. Harga 'vaksin' ini rata-rata AUD 575 (Rp 5,5 juta). Namun terduga penjual dari China memasang harga USD 10.000-15.000 (Rp 95 juta-143 juta).

"Rincian soal asal dan komposisi vaksin ini bertebaran, namun diduga palsu," begitu bunyi laporan tersebut. "Ini mungkin juga vaksin eksperimen yang secara ilegal diambil dari laboratorium riset yang sedang uji coba pada hewan dan manusia atau dari pasien yang sembuh dari COVID-19."

Selain vaksin 'plasma darah' yang diduga palsu, ada pula APD, test kit, ventilator dan aneka obat yang diklaim menyembuhkan COVID-19 yang dijual bebas di situs gelap tersebut. Kebanyakan vendor mengaku mengirim barang dari Amerika dan 3 dari Australia.

Laporan tersebut menyebutkan penjualan barang-barang terkait virus corona rupanya menimbulkan pro dan kontra di antara pelaku dark web. Australian Institute of Criminology menyimpulkan penjualan vaksin secara ilegal di dark web adalah potensi kejahatan yang harus diwaspadai penegak hukum.

Sementara itu, Kepala peneliti Rod Broadhurst kepada ABC Australia mengatakan plasma darah pasien yang sembuh memang digunakan untuk antibodi terhadap orang yang berisiko COVID-19. Namun, seorang peneliti di Story Brook Medicine, Amerika Serikat, Elliott Bennett-Guerrero ada sejumlah kekurangan yang perlu diperhatikan dari terapi plasma darah seperti kompatibilitas penerimaan plasma darah tersebut di tubuh penerima donor.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait