Langkah Trump yang meminta penyelidikan terhadap Obama ini memutus tradisi di Amerika Serikat, di mana Presiden dan mantan Presiden harus menghindari pertikaian publik.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 15 Mei 2020 - 15:00 WIB
WowKeren - Presiden AS Donald Trump menyerukan penyelidikan terhadap pendahulunya, mantan Presiden Barack Obama. Penyelidikan ini diserukan atas dugaan upaya Obama untuk mendorong teori konspirasi di kalangan Demokrat.
Padahal, Washington beroperasi berdasarkan aturan tidak tertulis bahwa Presiden dan mantan Presiden harus menghindari pertikaian publik. Namun Trump pada Kamis (14/5) justru menyerukan Obama untuk bersaksi di hadapan Senat atas teori konspirasi yang dijuluki "Obamagate." Langkah Trump itu memutus tradisi yang dijaga selama ini.
Dalam klaimnya, Trump menuding Obama di akhir pemerintahannya saat itu berusaha menjegal kepemimpinannya. Trump menilai Obama telah menggunakan wewenangnya dengan menyelidiki upaya Rusia mencampuri Pemilu AS 2016 yang saat itu disebut berusaha memenangkan Trump.
"Lakukan saja (pemanggilan Obama)," tulis Trump dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya, yang ditujukan pada Senator Lindsey Graham. Graham merupakan sekutunya di Partai Republik yang paling kuat dan menjadi Ketua Komite Peradilan Senat.
"Orang pertama yang saya panggil untuk bersaksi tentang kejahatan politik dan skandal terbesar dalam sejarah AS, oleh FAR, adalah mantan Presiden Obama," lanjut Presiden berusia 73 tahun tersebut, seperti dikutip dari The Jakarta Post pada Jumat (15/5).
Namun Graham menyatakan belum terpikir untuk memanggil Obama."Saya tidak berpikir sekarang saatnya bagi saya untuk melakukan itu. Saya tidak tahu apakah itu mungkin."
Teori konspirasi yang dimaksud adalah penyelidikan dua tahun lalu yang dipimpin oleh penasihat khusus Robert Mueller, yang menyelidiki kontak Trump dengan Rusia. Mueller menyatakan bahwa Trump dan kampanye pemilihannya memiliki kontak yang luas dengan Rusia, dan menuding bahwa Moskow secara langsung ikut campur dalam pemilihan Presiden tahun 2016 lalu yang dimenangkan oleh Trump.
Di sisi lain, Obama sendiri memang dianggap sebagai tokoh utama dalam pilpres AS 2020. Partai Demokrat mendorong Obama menjadi juru politik Joe Biden, rival Trump di pemilu mendatang. Biden sendiri diketahui pernah menjadi wakil Obama selama dua periode.
Obama juga dianggap masih menjadi tokoh Partai Demokrat yang paling populer. Terutama bagi pemilih masyarakat kulit hitam dan pemilih muda. Tim kampanye Biden ingin Obama sering tampil dihadapan publik dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu bagi Presiden Donald Trump hal ini artinya kesempatan untuk fokus pada musuh politik favoritnya. Beberapa hari terakhir Trump dan sekutu-sekutunya mendorong dengan agresif teori konspirasi tentang Obama.
Cara Trump dan kroni-kroninya mengulik masalah ini juga sekaligus mengalihkan perhatian masyarakat dari krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi virus corona yang menerpa AS. "Kedua belah pihak ingin hal ini tentang Obama," kata mantan juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih masa pemerintahan Obama, Ned Price.
Di sisi lain, tim kampanye Biden tidak terkejut bagaimana usaha Trump menyerang Obama. "Bukan hal yang mengejutkan Presiden membabi buta menyerang Obama, frustrasi mengalihkan perhatian dari kegagalannya sebagai Panglima Tertinggi yang mengakibatkan ribuan nyawa warga Amerika melayang," kata juru bicara tim kampanye Biden, TJ Ducklo.
(wk/luth)