Lazimnya Presiden AS berkunjung ke tempat kejadian perkara yang menjadi sorotan nasional. Presiden juga biasanya mendengarkan aspirasi penduduk setempat yang terdampak akibat peristiwa tersebut.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 09 Juni 2020 - 15:48 WIB
WowKeren - Sudah dua pekan Amerika Serikat dihebohkan dengan aksi demonstrasi besar-besaran usai meninggalnya seorang warga sipil kulit hitam, George Floyd, akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Kendati demikian, hingga kini Presiden AS Donald Trump belum juga tergerak untuk mendatangi lokasi kejadian dan menemui para tokoh masyarakat Afrika-Amerika di Minneapolis.
Dilansir CNN pada Selasa (9/6), lazimnya presiden AS berkunjung ke tempat kejadian perkara yang menjadi sorotan nasional. Presiden juga biasanya mendengarkan aspirasi penduduk setempat yang terdampak akibat peristiwa tersebut.
Akan tetapi, Trump memutuskan menyampaikan rasa simpati dari Gedung Putih di Washington D.C., yang dijaga ketat aparat keamanan, usai terjadi bentrokan dengan massa demonstran dua pekan lalu. Bahkan dia menyinggung nama Floyd dalam kegiatan yang tengah membahas soal lapangan kerja di AS. Selain itu, Trump hanya mengumpulkan para pimpinan lembaga penegak hukum, termasuk sheriff dan kepala kejaksaan yang secara terbuka mendukung partai Republik.
Hal tersebut lantas menuai kritik. Sebab, Wakil Presiden AS, Mike Pence, mencoba terlibat menenangkan keadaan dengan menemui para tokoh-tokoh masyarakat kulit hitam, tetapi tidak menyertakan keluarga Floyd atau para aktivis yang menggalang unjuk rasa Black Lives Matter.
Tokoh kulit hitam yang diundang ke Gedung Putih juga hanya memiliki pandangan politik konservatif. Bahkan seorang tokoh kulit hitam, Candace Owens, mengatakan Floyd adalah seorang penjahat hingga ajal menjemput dan tidak pantas dianggap sebagai martir karena bukan merupakan pribadi yang baik.
Kendati demikian, Trump dilaporkan menelepon keluarga Floyd. Namun menurut adik mendiang, Philonise, pembicaraan itu hanya satu arah. "Dia (Trump) tidak memberi kesempatan saya berbicara. Itu sangat sulit. Saya mencoba bicara kepadanya, tetapi dia seperti terus mendorong saya, seolah mengatakan dia tidak mau mendengarkan apa yang saya katakan," ujar Philonise.
Sementara itu, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.
Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.
Kematian Floyd juga kembali membuka luka lama akan rasialisme yang dirasakan oleh banyak warga Afrika-Amerika, khususnya terkait pembunuhan dan tindakan sewenang-wenang oleh polisi, seperti pembunuhan Michael Brown pada Agustus 2014 di Ferguson, Missouri, dan Eric Garner pada Juli 2014 di New York. Aksi protes untuk menuntut keadilan bagi Floyd menyebar di 140 kota di seluruh AS pada akhir pekan lalu, dan banyak berujung kerusuhan.
(wk/luth)