Sebuah foto yang menampilkan sejumlah pramugari menggunakan APD di dalam pesawat menjadi viral di media sosial. Menanggapi hal ini, Profesor Mikrobiologi pun buka suara.
- Nidya Putri
- Rabu, 10 Juni 2020 - 16:08 WIB
WowKeren - Sebuah unggahan foto di Twitter menjadi viral. Pasalnya, dalam foto tersebut memperlihatkan memperlihatkan pramugari mengenakan alat pelindung diri (APD) model rok di dalam pesawat.
Foto tersebut diunggah oleh pemilik akun @ridu pada Minggu (7/6) lalu. "Boarding ke pesawat udah kek mau masuk ke ruang operasi," tulis pemilik akun pada keterangan fotonya itu.
Hingga berita ini dibuat, postingan tersebut telah mendapatkan lebih dari 14 ribu retweet dan disukai lebih dari 32 ribu pengguna Twitter. Dikutip dari Liputan6.com, pemilik akun mengatakan bahwa itu bukan fotonya.
Foto muncul lalu ia unggah ke Twitter setelah mencari berita mengenai Corona di sejumlah wilayah di Asia Tenggara, salah satunya di Thailand. "Lalu nemu artikel tentang usaha Thailand dalam memulangkan warga negaranya dari Amerika ke Thailand," kata Ridu. Hingga akhirnya ia mengetahui jika para pramugari tersebut berasal dari maskapai Thai Airways.
Terkait viralnya APD yang digunakan pramugari di foto tersebut, seorang Profesor Mikrobiologi di Universitas Indonesia Pratiwi Pujilestari Sudarmono pun buka suara. Untuk benda yang menempel di tubuh para pramugari tersebut, Pratiwi menyebutnya sebagai apron. "Ini sebenarnya apron. Yang biasa dipakai pada masa pandemi saja, lebih untuk menutupi agar pramugarinya tidak ketularan," katanya.
Menurut Pratiwi, apron aman dikenakan untuk mereka yang berprofesi sebagai pramugari dan sejenisnya. Apabila APD yang umum dan familiar di masyarakat menutup semua bagian dan panas, apron cukup memudahkan pramugari untuk bergerak dan tidak panas. "Apron tertutup begitu aman. Selama dia pakai masker, ditambah face shield, sudah sangat oke," imbuhnya.
Hanya saja, jika ada maskapai di Indonesia ingin meniru hal yang seperti itu, dia menyarankan satu hal, sebaiknya tidak perlu pakai sarung tangan. "Kalau saya sebagai mikrobiologis, pakai tangan biasa (tanpa sarung) jauh lebih nyaman. Begitu cuci tangan, beres," lanjutnya.
Meski begitu, penggunaan sarung tangan juga tak sepenuhnya menjamin terbebas dari virus corona. "Kecuali, kalau dia mau ganti setiap saat," terangnya. "Takutnya, karena merasa aman pakai sarung tangan, pegang sana-sini, ngga bisa cuci tangan tentunya, lalu terpegang wajah atau bagian lain tempat masuknya virus."
Sebagai mikrobiologis, penggunaan sarung tangan hanya saat bertugas di laboratorium. Sementara itu sehari-harinya nggak pernah pakai sarung tangan, lebih nyaman membiarkan tangan telanjang agar lebih ingat untuk sering cuci tangan. "Sisanya sih boleh ditiru," pungkasnya.
(wk/nidy)