Mark Esper menolak instruksi Donald Trump untuk menurunkan pasukan militer dalam meredam demonstrasi anti-rasisme Black Lives Matter. Keputusannya ini ternyata membuat Trump berencana mencopotnya.
- Elvariza Opita
- Kamis, 11 Juni 2020 - 15:05 WIB
WowKeren - Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyampaikan keinginannya untuk menerjunkan militer demi meredam demonstrasi George Floyd. Namun instruksinya kala itu dimentahkan begitu saja oleh Menteri Pertahanan AS, Mark Esper.
Dan rupanya penolakan Esper itu sempat akan berbuntut panjang. Sebab rupanya Trump sampai ingin memecat Esper lantaran marah sang menteri tak mendukung usulannya mengerahkan militer.
Informasi ini disampaikan oleh sumber internal anonim Gedung Putih kepada Wall Street Journal. Trump sendiri dikabarkan sudah merundingkan rencana pemecatan itu dengan penasihatnya, yang kemudian ternyata berujung penolakan juga.
Penasihat Trump menentang niatan presiden 73 tahun itu mencopot Esper yang merupakan Menhan AS keempat sejak jabatannya dimulai pada 2017 lalu. Karena ditolak sang penasihat itulah akhirnya Trump batal mendepak Esper.
Namun ternyata masalah pengerahan militer itu juga membuat Esper berniat mengundurkan diri. Bahkan Esper sudah menyiapkan surat untuk meletakkan jabatannya, sebagaimana dilaporkan New York Post pada Selasa (9/6) lalu.
Hanya saja niat Esper ini berhasil diurungkan setelah para staf dan penasihat Kementerian Pertahanan AS memintanya mempertimbangkan ulang. Sehingga sampai sekarang Esper masih menjabat sebagai "pembantu" Trump di bidang pertahanan, namun tetap tak ada kelompok militer yang diterjunkan untuk meredam demonstrasi.
Sebelumnya Esper menegaskan tak akan mengerahkan militer dalam mengatasi demonstrasi yang terjadi. Esper menilai pasukan militer hanya boleh diterjunkan sebagai upaya terakhir serta hanya dalam situasi yang sangat mendesak serta mengerikan.
"Pilihan untuk menggunakan satuan tugas aktif dalam peran penegakan hukum hanya boleh digunakan sebagai pilihan terakhir, dan hanya dalam situasi yang paling mendesak dan mengerikan," kata Esper. "Kami tidak berada dalam salah satu situasi itu sekarang. Saya tidak mendukung permohonan UU Pemberontakan."
Sementara itu, Trump sendiri berniat mengerahkan tentara aktif untuk meredam demonstrasi karena anarkis yang cenderung meningkat. Namun ancaman Trump ini menuai banyak reaksi negatif, tak hanya dari Esper tetapi juga dari militer dan Kongres AS sendiri karena dianggap menjadikan tentara sebagai pion politik.
(wk/elva)