Meski mengaku insiden penembakan tersebut mengerikan, namun Trump mengatakan bahwa warga sipil yang bersalah memang tidak bisa melawan atau kabur dari polisi.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 19 Juni 2020 - 07:53 WIB
WowKeren - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menganggap penembakan terhadap warga kulit hitam bernama Rayshard Brooks oleh polisi Atlanta merupakan sebuah insiden yang mengerikan. Kendati demikian, Trump juga mengatakan bahwa warga sipil yang bersalah tidak bisa melawan atau kabur dari polisi.
"Peristiwa yang terjadi kemarin-kemarin ini saya pikir adalah situasi yang mengerikan, tetapi Anda tidak bisa melawan seorang polisi meski memiliki perbedaan. Sangat menyedihkan," kata Trump kepada Fox News.
Trump sendiri mengaku merasa risih saat melihat rekaman penangkapan Brooks yang berujung penembakan. Presiden berusia 74 tahun tersebut mengatakan situasi saat itu sangat tidak terkontrol."Anda harus benar-benar melihat (videonya). Anda benar-benar melihat situasi itu tidak terkendali," ujarnya.
Meski begitu, Trump menyatakan bahwa penyelidikan dan proses hukum kasus kematian Brooks harus dilakukan dengan adil baik bagi sang korban maupun aparat yang terlibat. Sejauh ini, dua petugas polisi yang menangkap Brooks sudah dipecat. Satu petugas yang menembak Brooks, Garrett Rolfe, pun sudah didakwa terkait perbuatannya itu.
"Saya berharap dia (polisi) mendapat perlakuan yang adil karena polisi kerap tak diperlakukan adil di negara kita ini," kata Trump lagi.
Sementara itu, insiden penembakan Brooks ini terjadi pada Jumat (12/6) lalu ketika polisi berupaya menangkap Brooks di sebuah restoran cepat saji Wendy's di Atlanta. Awalnya, karyawan Wendy's melaporkan kepada pihak berwenang bahwa ada pria yang tertidur di dalam mobil di jalur drive-thru restoran. Pria tersebut adalah Brooks.
Biro Investigasi Georgia (GBI) menuturkan aparat lalu bergegas menuju lokasi dan mendapati Brooks tengah terlelap di dalam mobilnya. Polisi lalu melakukan tes kesadaran diri terhadap Brooks.
Brooks dinyatakan mabuk dan menolak untuk ditangkap hingga terlibat perkelahian. Brooks berhasil lolos dan mencoba kabur sambil membawa alat kejut listrik atau taser yang dipegang salah satu petugas. Belum jauh kabur, salah satu petugas yang mencoba menangkapnya melontarkan tembakan sebanyak tiga kali ke arah Brooks.
Saksi mata mengatakan Brooks masih bernapas ketika terbaring di tanah. Pria 37 tahun itu sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal dunia di sana.
Kematian Brooks memicu kembali protes di Atlanta yang merupakan bagian dari aksi demonstrasi luas terkait pembunuhan George Floyd. Brooks dan Floyd merupakan pria Afro-Amerika yang terbunuh oleh polisi AS. Pada Minggu (14/6) malam, polisi antihuru-hara berkumpul di kantor kepolisian dekat lokasi penembakan Brooks. Restoran cepat saji Wendy's pun terbakar diamuk massa.
(wk/luth)