Bikin Geger Usai Sujud Menangis di Depan IDI, Walkot Surabaya Risma Blak-Blakan Alasannya
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Wali Kota Surabaya itu terekam menangis bersujud di hadapan IDI dalam audiensi soal wabah Corona beberapa waktu lalu. Belakangan Risma menganalogikan aksinya dengan sikap seorang jenderal.

WowKeren - Belum lama ini Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menjadi buah bibir khalayak luas. Pasalnya sang walkot terekam kamera sampai bersujud menangis di hadapan perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya ketika audiensi soal perkembangan wabah Corona.

Awalnya mereka membahas perihal kondisi rumah sakit rujukan serta penyebab mengapa angka kematian COVID-19 di Surabaya begitu tinggi. Krisis berat yang dialami Kota Pahlawan membuat Risma sampai tak kuasa menahan diri dan menangis sembari meminta maaf serta menyebut dirinya tak pantas menjadi wali kota.

Namun pada Kamis (2/7) malam Risma akhirnya buka suara soal alasan di balik aksi "drama"nya itu. Kader PDI Perjuangan tersebut mengaku sampai bersujud menangis lantaran tidak terima stafnya disalahkan oleh IDI.

"Bapak itu ngotot dan nunjuk staf saya, saya nggak terima," ujar Risma yang hadir dalam acara "Rosi" di Kompas TV. "(Padahal) staf saya sudah saya 'banting-banting'."

"Kalau nyalahkan, (salahkan) saya saja, kenapa harus staf saya," imbuhnya. "Bilang saja 'Risma goblok'."


Risma menilai data yang disampaikan IDI dalam pertemuan itu kurang tepat. Pasalnya para peserta audiensi menyebut kapasitas rumah sakit kurang, sementara Risma merasa menerima data yang menunjukkan hal sebaliknya.

"Saat itu saya tunjukkan data, kok saya bingung ada rumah sakit penuh. Ini yang penuh yang mana? Sampai nggak ngerti saya," beber Risma. "Di data kami itu enggak."

Risma menegaskan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya dengan maksimal untuk mengantisipasi membludaknya pasien COVID-19. Termasuk dengan menyiapkan sampai 200 kamar hotel demi memenuhi kebutuhan ruang isolasi orang tanpa gejala (OTG).

Karena itulah Risma kaget mendapati peserta audiensi menyebut Surabaya kekurangan ruang perawatan pasien COVID-19. Bahkan penyampaiannya dianggap menyalahkan staf padahal Risma yakin jajarannya sudah bekerja dengan sangat maksimal.

"Beliau menuding staf saya tidak bisa komunikasi atau koordinasi. Padahal saya baca sendiri (data) berapa rumah sakit kosong," terang Risma. "Infonya dari mana, bagaimana kondisi RS, saya dapat info tiap hari."

"Saya jenderal perang, saya bertanggung jawab. Orang menyalahkna staf saya, saya enggak terima," pungkasnya. "Saya lah yang bertanggung jawab, bukan staf saya."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts