Israel Sebut Iran Selundupkan Senjata ke Pelabuhan Lebanon untuk Hizbullah
kemlu.go.id
Dunia

Seorang pelapor mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa intelijen Israel menemukan bukti pasukan Quds Iran menggunakan pelabuhan di Beirut untuk melakukan pengiriman senjata ke Hizbullah Lebanon.

WowKeren - Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Danny Danon, menuduh Iran mengeksploitasi perusahaan sipil dan maritim untuk menyelundupkan peralatan pembuatan senjata ke Hizbullah di Lebanon. Ia mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa intelijen Israel menemukan bukti pasukan Quds Iran menggunakan pelabuhan di Beirut untuk melakukan pengiriman tersebut sejak tahun lalu.

"Pada 2018 hingga 2019, Israel menemukan bahwa barang-barang bekas pakai diselundupkan ke Lebanon untuk memajukan kemampuan roket dan rudal Hizbullah," ujar Danon dalam pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB di Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Republika pada Rabu (5/8).

Danon menuturkan bahwa Iran dan Pasukan Quds telah mulai memajukan eksploitasi saluran laut sipil, secara khusus di pelabuhan Beirut. Dalam sebuah pernyataan, misi Israel mengatakan agen-agen Suriah telah membeli barang-barang bekas dari perusahaan-perusahaan asing dengan alasan palsu dan memberikannya kepada Hizbullah.

Tak hanya itu, Danon kemudian memberikan sebuah peta rute perpindahan Hizbullah yang mencakup pusat-pusat utama di bandara Damaskus, pelabuhan dan bandara Beirut, dan penyeberangan perbatasan resmi antara Suriah dan Lebanon, seperti penyeberangan Masnaa. Ia mengatakan proses transfer itu telah nyata melanggar resolusi PBB 1701, yang mengakhiri Perang Lebanon pada 2006 antara Hizbullah dan Israel.

Kendati demikian, Danon tidak merinci barang apa yang diperoleh kelompok teror melalui cara-cara ini atau menyebutkan nama perusahaan di balik pengiriman. Beberapa komandan Hizbullah sebelumnya mengatakan bahwa kelompok itu mengerahkan pasukan untuk persiapan potensi perang dengan Israel, sekaligus memperingatkan bahwa tekanan yang meningkat dari sanksi Amerika Serikat terhadap Teheran dapat memicu konflik seperti itu lebih cepat terjadi.


Sebagai informasi tambahan, Hizbullah merupakan kelompok yang didukung dan didanai oleh Iran dan digolongkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan sejumlah negara lainnya. Hizbullah saat ini mendominasi politik Lebanon dan mendukung pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Hassan Diab.

Sejak perang yang terjadi pada 2006, Israel telah berulang kali menuduh Hizbullah melanggar resolusi 1701, yang menyerukan semua kelompok bersenjata selain militer Lebanon untuk tetap berada di atas Sungai Litani. Israel menyatakan bahwa kelompok yang didukung Iran tersebut terus melakukan pelanggaran, yaitu dengan menjaga persentase yang signifikan dari arsenal roket dan mortir berkekuatan 100.000 orang di selatan Lebanon, serta melakukan patroli dan kegiatan militer lainnya di sepanjang perbatasan kedua negara.

Pada akhir 2018 dan awal 2019, Israel melaporkan telah menemukan setidaknya enam terowongan lintas perbatasan digali oleh Hizbullah dari selatan Lebanon ke Israel. Kelompok itu diduga telah merencanakan penggunakan terowongan untuk menculik atau membunuh warga sipil atau tentara Israel, serta merebut sepotong wilayah Israel jika terjadi permusuhan.

Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL mengkonfirmasi hal itu sebagai pelanggaran resolusi 1701. Meski demikian, Hizbullah tidak dinyatakan maupun diidentifikasi sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas penggalian tersebut.

Berkaitan dengan seluruh dugaan Israel tersebut, saat ini Lebanon tengah terguncang oleh insiden ledakan besar di Pelabuhan Beirut, yang terjadi tepatnya pada Selasa (4/8) kemarin. Dalam laporan terbaru dari pemerintah setempat, diketahui terdapat 2.700 ton Amonium Nitrat yang meledak di pelabuhan. Amonium Nitrat adalah bahan yang sangat mudah meledak dan sering digunakan untuk pupuk, tetapi juga tak jarang dimanfaatkan sebagai bahan peledak.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts