Diklaim Sudah Banyak Dipesan, Vaksin Corona 'Sputnik V' Rusia Malah Dikritik Negara Sendiri
Dunia
Vaksin COVID-19

Ahli virologi Rusia, Profesor Chepurnov, mengkritik keras rencana produksi massal vaksin Sputnik V karena dianggap menyalahi berbagai prosedur uji klinis serta mengandung bahan 'berbahaya'.

WowKeren - Rusia menjadi negara pertama yang akan memproduksi massal vaksin COVID-19 bertajuk "Sputnik V". Rusia bahkan mengklaim sudah banyak negara yang tertarik terhadap vaksin ini.

Namun rupanya vaksin ini menuai banyak kritikan dari dalam negaranya sendiri. Usai diprotes Profesor Alexander Chuchalin, seorang dokter spesialis paru-paru kawakan di Rusia, kini Sputnik V ikut "disentil" seorang ahli virologi bernama Profesor Alexander Chepurnov.

"Rancangan vaksin yang buruk dapat meningkatkan penularan penyakit," kata Chepurnov, dilansir FR24 News, Kamis (20/8). Sehingga alih-alih menekan laju pertumbuhan kasus Corona, vaksin tersebut malah berpotensi memperluas penyebaran COVID-19.

"(Pembuatan vaksin) membutuhkan waktu. Antibodi (setiap orang) berbeda. Untuk virus Corona, dalam situasi tertentu infeksi meningkat dengan antibodi tertentu," jelas Chepurnov. "Anda harus tahu persis antibodi mana yang dihasilkan oleh vaksin itu."

Mantan kepala laboratorium untuk penyakit sangat berbahaya di pusat penelitian biologi Vector Institute, Siberia, itu mengatakan bahwa pembuat vaksin perlu menjelaskan tingkat netralisasi dan rincian dosis vaksin. Selain itu, peneliti juga harus menunjukkan apakah vaksin bisa meningkatkan infeksi antibodi atau tidak.


Poin inilah yang tak bisa dipenuhi oleh penelitian vaksin Sputnik V. Sebab sertifikat registrasi vaksin Corona yang konon sudah diujicobakan pada anak Presiden Vladimir Putin itu hanya memberikan sedikit rincian tentang Sputnik V. Bahkan pembuat vaksin juga belum mempublikasikan jurnal ilmiah tentang Sputnik V.

Namun baru-baru ini Science Magazine melansir bahwa deskripsi lebih detail soal Sputnik V bisa diakses di ClinicalTrials.gov milik Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat. Di situ dijelaskan bahwa vaksin Rusia ini mengandung dua suntikan yang berisi versi berbeda dari Adenovirus, yakni virus penyebab penyakit pernapasan pada manusia.

Namun Adenovirus ini kemudian direkayasa oleh peneliti Institut Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamelaya, selaku pengembang vaksin, agar membawa gen protein permukaan virus SARS-CoV-2. Ada dua jenis rekayasa Adenovirus yang dimasukkan, dimana tipe keduanya, yakni Adenovirus 5 lah yang kemudian menuai banyak kritikan.

Adenovirus 5 pernah dipakai sebagai agen uji coba vaksin HIV pada 2007 silam. Namun kala itu keberadaan Adenovirus 5 malah meningkatkan kemungkinan penularan penyakit, dan Chepurnov mengkhawatirkan hal itu akan terjadi pada Sputnik V.

Chepurnov juga menyoroti perihal uji klinis vaksin tersebut yang "memangkas" berbagai langkah. Sebab uji klinisnya hanya berlangsung selama 1-2 bulan dengan target 76 orang, jauh lebih rendah ketimbang yang dipersyaratkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts