Infeksi ulang ini berarti seseorang dinyatakan positif COVID-19, sembuh, dan kemudian kembali terinfeksi. Kasus infeksi ulang COVID-19 telah ditemukan di Hong Kong, Belanda, dan Belgia.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 28 Agustus 2020 - 13:04 WIB
WowKeren - Hong Kong, Belanda dan Belgia telah melaporkan kasus infeksi ulang virus corona baru penyebab COVID-19. Ini berarti, seseorang positif COVID-19, sembuh, dan kemudian kembali terinfeksi. Namun demikian, infeksi ulang COVID-19 ini rupanya tidak perlu dikhawatirkan.
Ahli virologi memahami bahwa infeksi ulang virus corona adalah hal yang biasa. Sedangkan ahli imunologi berupaya untuk menemukan berapa lama ciri kekebalan pelindung akan bertahan pada pasien yang sudah pulih dari penyakit ini.
Melansir The Guardian, laporan kasus infeksi ulang yang jarang terjadi sejauh ini tidak disertai dengan data pengurusan virus sehingga tidak dapat dikonfirmasi. Namun infeksi ulang ini cukup bisa diprediksi sehingga tidak ada alasan untuk khawatir.
Diketahui, tubuh manusia tidak kebal terhadap suatu virus ketika sudah pulih dari infeksi. Dalam banyak kasus, tubuh manusia justru akan menjadi inang yang tidak ramah.
Sebagai informasi, setelah pulih dari infeksi, tubuh manusia masih memiliki jenis sel yang sama yang menjadi tempat virus menempel dan memproduksi lebih banyak virus. Sel-sel target ini tidak diubah secara substansial untuk mencegah infeksi di masa depan beberapa bulan setelah virus dibasmi oleh respons imun.
Namun, jika antibodi dan sel memori (sel B dan T) tertinggal dari infeksi baru-baru ini, maka perluasan virus yang baru hanya akan bertahan dalam waktu relatif singkat. Virus baru tersebut juga akan berkurang sebelum pasien merasakan efek infeksi terlalu banyak.
Hal ini yang tampaknya terjadi pada pasien infeksi ulang COVID-19 di Hong Kong. Diketahui, pasien pria tersebut tidak merasakan gejala di infeksi keduanya dan baru diketahui kembali positif saat mengikuti pemeriksaan di bandara.
Akankah pasien dari Hong Kong mengetahui dirinya kembali terinfeksi jika ia tidak bepergian dan menjalani pemeriksaan bandara? Mungkin tidak.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah pasien itu bisa menularkan COVID-19 di infeksi keduanya yang tanpa gejala? Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang tanpa gejala dapat menularkan COVID-19, oleh sebab itu penggunaan masker dan protokol menjaga jarak di tempat umum digalakkan.
Virus corona lama telah memberi beberapa dari kita sel T memori yang juga dapat bergerak melawan COVID-19. Ini bisa menjelaskan mengapa beberapa orang terhindar dari penyakit parah.
Ada tiga kemungkinan terkait infeksi ulang pada individu yang sudah sembuh. Yang pertama adalah gejala yang lebih buruk yang mengarah ke penyakit yang lebih parah, yang kedua gejala yang sama seperti infeksi pertama, dan terakhir perbaikan gejala yang mengarah ke penyakit yang lebih ringan atau tanpa penyakit.
Adapun kemungkinan terakhir, yakni infeksi yang lebih ringan, bisa terjadi berkat sistem kekebalan yang sehat yang menghasilkan antibodi dan respons memori B dan sel T yang bertahan cukup lama selama paparan kedua. Mengingat keragaman respons antibodi dan sel T yang dilaporkan pada para pasien COVID-19, ilmuwan pun mengantisipasi bahwa perlindungan kekebalan, jika efisien, dapat berbeda pada orang yang berbeda.
Sementara itu, vaksinasi dapat menghasilkan respons imun yang lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan infeksi alami, dan ini dapat dipertahankan dengan vaksinasi penguat bila diperlukan. Ini alasan para ilmuwan tak terkejut mendengar bukti adanya infeksi ulang COVID-19. Minimnya gejala yang dialami pasien infeksi ulang COVID-19 di Hong Kong merupakan kabar baik.
(wk/Bert)