Waspada Corona Infeksi Anak, Ternyata Cenderung Alami Diare Ketimbang Gejala Lain
Health
Pandemi Virus Corona

Waspada penularan virus corona kepada anak, penelitian terbaru mengungkapkan jika diare lebih mungkin muncul dibanding gejala lainnya saat anak terinfeksi COVID-19.

WowKeren - Sebuah studi yang dilakukan peneliti menemukan fakta terbaru seputar kasus virus corona yang menginfeksi anak. Ternyata, anak lebih cenderung mengalami gejala diare saat terinfeksi COVID-19 ketimbang gejala lainnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Queen's University Belfast. Biasanya, gejala umum virus corona adalah demam tinggi, batuk persisten, hingga hilangnya indra penciuman dan rasa.

Namun, studi yang meneliti tentang gelaja virus corona pada anak tersebut menemukan fakta terkait diare sebagai gelaja utama. Peneliti mengungkap jika anak yang terinfeksi virus corona lebih mungkin mengalami sakit perut daripada batuk.

Penelitian ini melibatkan 1.000 anak yang tinggal di Irlandia Utara, Skotlandia, Inggris, dan Wales. Peneliti mengukur antibodi anak-anak tersebut dalam sebuah uji coba yang disebut seroprevalensi infeksi SARS-CoV-2 pada anak-anak sehat.


”Setelah gelombang pertama pandemi di Inggris, kami telah mengetahui bahwa setengah dari anak-anak yang berpartisipasi dalam penelitian ini tidak menunjukkan gejala dengan infeksi virus corona,” jelas Peneliti dari Wellcome-Wolfson Institute for Experimental Medicine di Queen's University Belfast, Dr Tom Waterfield seperti dilansir dari Express. “Sedangkan mereka yang memiliki gejala biasanya tidak mengalami batuk.”

”Separuh dari anak-anak dengan virus corona melaporkan tidak ada gejala,” sambungnya. “Gejala gastrointestinal, seperti diare dan muntah juga lebih umum terjadi pada anak-anak daripada batuk dan hilangnya indera penciuman.”

Adapun penelitian tersebut telah dilakukan sejak Mei 2020 lalu. Tujuannya adalah untuk menilai jumlah anak yang pernah terjangkit virus corona. Selain itu, tujuan penelitian tersebut juga untuk menemukan gejala infeksi dan kemungkinan anak-anak itu memiliki antibodi yang bisa melawan virus atau tidak.

Hasilnya, anak-anak yang berusia di bawah usia 10 tahun memiliki kemungkinan yang sama untuk untuk memiliki bukti infeksi sebelumnya, seperti anak-anak yang lebih tua. Peneliti juga menemukan sekitar 7 persen anak dinyatakan positif antibodi setelah menunjukkan infeksi COVID-19 sebelumnya.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts