Orang Berkacamata Diduga Berisiko Lebih Rendah Kena Corona, Ini Penjelasannya
Health
Pandemi Virus Corona

Sebanyak 276 pasien COVID-19 dirawat di sebuah rumah sakit di Shizhou, Tiongkok, dalam periode 47 hari. Namun hanya 16 orang di antaranya, atau kurang dari enam persen, yang berkacamata.

WowKeren - Para peneliti di Tiongkok yang menganalisa data rumah sakit dengan pasien virus COVID-19 menemukan hal yang menarik. Rupanya, pasien COVID-19 yang memakai kacamata secara teratur jumlahnya sangat sedikit.

Sebanyak 276 pasien COVID-19 dirawat di sebuah rumah sakit di Shizhou, Tiongkok, dalam periode 47 hari. Namun hanya 16 orang di antaranya, atau kurang dari enam persen, yang memiliki kondisi miopia atau rabun jauh dan harus memakai kacamata selama lebih dari delapan jam sehari.

Sebagai perbandingan, lebih dari 30 persen orang dengan usia yang sama di wilayah tersebut membutuhkan kacamata untuk rabun jauh. Hal ini lantas membuat para ilmuwan bertanya-tanya, bisakah pemakaian kacamata melindungi seseorang dari paparan virus corona?

"Pemakaian kacamata merupakan hal yang umum dilakukan orang Tiongkok dari segala usia," demikian kutipan penelitian tersebut, dilansir The New York Times pada Jumat (18/9). "Namun, sejak COVID-19 mewabah di Wuhan pada Desember 2019, kami mengamati bahwa hanya ada sedikit pasien berkacamata yang dirawat di bangsal rumah sakit."


Para peneliti tersebut berspekulasi bahwa pengamatan ini dapat menjadi "bukti awal bahwa pemakai kacamata sehari-hari tidak terlalu rentan terhadap COVID-19". Namun demikian, para ahli menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan dari penelitian tersebut, atau merekomendasikan agar orang-orang mulai memakai pelindung mata selain masker dengan harapan dapat menurunkan risiko infeksi.

Sementara itu, penggunaan kacamata kemungkinan dapat menurunkan risiko terpapar COVID-19 karena mata terlindung dari partikel percikan batuk atau bersin. Penjelasan lainnya adalah orang-orang yang memakai kacamata cenderung tidak menggosok mata mereka dengan tangan yang terkontaminasi.

Meski demikian, profesordi Sekolah Kedokteran Johns Hopkins, Dr. Lisa Maragakis, meminta agar penafsiran hasil penelitian tersebut dilakukan dengan hati-hati. Pasalnya, studi tersebut hanya melibatkan kurang dari 300 kasus COVID-19, padahal virus ini telah menginfeksi lebih dari 30 juta orang di seluruh dunia. Kekhawatiran lain adalah data tentang rabun jauh di kelompok pembanding diperoleh dari sebuah penelitian yang berlangsung beberapa dekade sebelumnya.

"Ini satu studi," kata Dr. Maragakis. "Ini memang memiliki beberapa alasan biologis, mengingat di fasilitas perawatan kesehatan, kami menggunakan pelindung mata (face shield atau kacamata). Tapi yang masih harus diselidiki adalah apakah pelindung mata di tempat umum akan menambah perlindungan di atas masker dan jaga jarak. Saya pikir itu masih belum jelas."

Dengan demikian, diperlukan lebih banyak penelitian untuk melihat apakah penggunaan kacamata untuk mengurangi risiko COVID-19 bisa berlaku pada populasi penelitian lain. "Mungkin tidak ada salahnya memakai kacamata, tetapi apakah semua orang perlu melakukannya? Mungkin tidak," pungkas profesor oftalmologi di MetroHealth Medical Center di Cleveland, Dr. Thomas Steinemann.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts