Remaja Sumba Curi Perhatian Curhat Dampak Virus Corona di Forum PBB
Dunia
Pandemi Virus Corona

Rosalinda (15) seorang remaja putri asal Kabupaten Sumba Timur, NTT menyampaikan keluhannya selama terdampak pandemi COVID-19, terutama untuk anak-anak di wilayah 3T.

WowKeren - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) mengadakan forum untuk menyampaikan suara anak-anak terdampak wabah COVID-19. Termasuk di antaranya Indonesia yang mendelegasikan tugas ini kepada Rosalinda (15), seorang remaja putri asal Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lewat suara yang disampaikan secara virtual di forum tersebut, Rosalinda mengungkap sejumlah aspirasi anak-anak Indonesia. Khususnya mereka yang tinggal di daerah terdepan, terluar dan tertinggal Indonesia selama pandemi COVID-19.

Rosalinda menyebut, pandemi COVID-19 sudah merenggut keceriaan anak-anak Indonesia. Sebab pandemi COVID-19 memaksa anak-anak untuk menghabiskan waktu di rumah dan tidak dapat bermain dengan teman-temannya.

"Setelah belajar di rumah, kalau menemui hal sulit tidak bisa langsung bertanya pada guru seperti kalau di sekolah," ujar Rosalinda, dikutip CNN Indonesia dari Wahana Visi Indonesia, Sabtu (10/10). "Bagi anak-anak yang pendidikan orang tuanya minim, maka akan semakin kesulitan."


Lebih lanjut, remaja asal NTT itu juga blak-blakan mengungkap sulitnya belajar di tengah pandemi COVID-19. Sebab model belajar daring yang diterapkan selama pandemi membutuhkan jaringan internet yang stabil juga telepon seluler. Padahal saat ini tak semua anak beruntung karena penghasilan orangtua pun ikut berkurang di tengah pandemi.

Rosalinda juga mengeluhkan perihal sulitnya akses air bersih di Sumba. Kesulitan akses air bersih menyebabkan anak-anak Sumba sulit untuk mencuci tangan padahal langkah itu merupakan kunci untuk terbebas dari risiko terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Oleh karena itu, Rosalinda berharap keluhannya bisa segera ditindaklanjuti bila disampaikan di forum dengan banyak perwakilan negara itu. "Saya berharap, para pemangku kebijakan dapat memberi solusi atas apa yang dihadapi anak-anak di masa pandemi ini," tutur Rosalinda.

Acara ini sendiri diprakarsai oleh World Vision Asia (WVA) dan berlangsung di New York, Amerika Serikat. Acara itu sendiri dihadiri oleh duta perwakilan negara-negara anggota PBB termasuk duta perwakilan Indonesia di PBB New York, Vahd Nabyl A. Mulachela.

WVA sendiri mengundang perwakilan negara anggota PBB di New York untuk menanggapi hasil survei cepat dampak sosial ekonomi COVID-19 pada kehidupan anak-anak yang rentan Asia Pasifik. Dan hasilnya, 61 persen responden mengaku mata pencahariannya terganggu oleh virus Corona yang tentu berdampak bagi kehidupan mereka.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts