Sebelumnya, menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan sepakat melakukan gencatan senjata pada Sabtu (10/10). Namun gencatan senjata tersebut hanya berlangsung selama 11 jam.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 12 Oktober 2020 - 19:14 WIB
WowKeren - Pasukan Armenia dan Azerbaijan kembali terlibat dalam bentrokan terbaru pada Senin (12/10) pagi atas sengketa wilayah Nagorno-Karabakh. Kedua pihak kembali saling tuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia.
Tembakan dan aksi saling serang terjadi di beberapa kota, termasuk Barda, Karabakh, hingga Stepanakert di Azerbaijan. Kementerian pertahanan Azerbaijan menuduh pecahnya perang ini disebabkan pasukan Armenia yang tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata yang tengah dinegosiasikan oleh Rusia.
"Angkatan bersenjata Armenia yang tidak mematuhi gencatan senjata kemanusiaan, berulang kali mencoba menyerang posisi tentara Azerbaijan," kata Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Azerbaijan juga mengklaim pasukan musuh telah mengerahkan tank T-72 dan tiga peluncur roket multi Grad untuk menyerang daerah mereka. Kendati tidak memberikan rincian, Armenia juga mengklaim jika Azerbaijan telah memicu kerugian besar dari sisi tenaga dan peralatan militer.
Sebelumnya, menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan sepakat melakukan gencatan senjata pada Sabtu (10/10) dini hari dalam pertemuan yang dimediasi di Moskow, Rusia. Namun gencatan senjata tersebut hanya berlangsung selama 11 jam.
Serangan kali ini bukan yang pertama setelah terjadi pertemuan di Rusia. Pada Sabtu (10/10) lalu, kedua pihak kembali saling tuding atas pengeoman yang terjadi di wilayah sipil.
Sejauh ini dilaporkan hampir 500 orang menjadi korban atas pecahnya perang ini, termasuk lebih dari 60 warga sipil tewas dalam serangan yang terjadi selama lebih dari dua pekan terakhir.
Nagorno-Karabakh sendiri merupakan bagian wilayah Azerbaijan yang dihuni oleh mayoritas etnis Armenia. Sejarah konflik dua pihak yang berada di wilayah Kaukasus ini sudah terjadi sejak perang Nagorno-Karabakh pada 1980 hingga 1994.
Usai keruntuhan Uni Soviet, wilayah ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 1991. Namun, itu tak diakui dunia internasional. Referendum kemudian dilakukan pada 2017 dengan mayoritas mendorong kemerdekaan. Negara-negara besar pun kembali tak mengakui hasilnya. Hanya kepada Armenia Karabakh bergantung.
Perundingan berlarut-larut yang dimediasi negara-negara besar hingga kini tetap tak menemui hasil signifikan. Gencatan senjata antara Karabakh dengan Azerbeijan terakhir terjadi pada 1994.
(wk/luth)