Terlanjur Klaim Menang Pilpres, Bagaimana Jika Trump Kalah dan Ogah Tinggalkan Gedung Putih?
Getty Images
Dunia

Salah satu yang dikhawatirkan publik adalah bila Donald Trump enggan meninggalkan Gedung Putih meski akhirnya dinyatakan kalah di Pilpres AS 2020. Begini pandangan pakar soal itu.

WowKeren - Sampai saat ini proses penghitungan suara atas Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 masih terus berlangsung. Sejumlah pihak meyakini proses penghitungan suara akan berlangsung lebih lama lantaran lebih banyak yang memilih menggunakan hak pilihnya lewat jalur pos karena pandemi COVID-19.

Sejauh ini suara keduanya, baik di kategori popular vote dan electoral vote masih bersaing ketat. Namun Capres dari Partai Demokrat Joe Biden memimpin sementara di kategori electoral vote yang menarget 270 suara untuk bisa menang.

Namun di sisi lain Capres petahana Donald Trump tampaknya enggan menerima peluang kekalahannya. Ia bahkan berani menuding Pemilu berjalan curang serta secara prematur mengklaim kemenangannya, sesuatu yang kemudian berbuah cemoohan dari banyak pihak.

Yang kemudian menjadi pertanyaan publik, dengan situasi seperti ini, bagaimana jika Trump sampai kalah dan menolak keluar dari Gedung Putih? Sang rival, Biden, mengaku siap menempuh langkah hukum apabila Trump sampai menolak hasil Pemilu.

"(Kami) akan memberi jalan keluar terbaik untuk Trump," ungkap kubu Biden, dilansir dari Independent, Kamis (5/11). Namun sejumlah pihak masih khawatir dengan bagaimana tanggapan Trump jika ternyata ia sampai kalah di Pemilu, salah satunya sang mantan pengacara, Michael Cohen.


"Sepanjang pengalaman saya bekerja untuk Trump, saya tidak yakin kondisi akan tetap damai," ujar Cohen. "Terutama jika ia kalah di Pemilu 2020, itu akan menjadi masa transisi kekuasaan paling kacau."

Tetapi Ketua DPR AS Nancy Pelosi menegaskan pihaknya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi itu. Memang Demokrat harus bersiap menghadapi "kekeraskepalaan" Trump yang barangkali enggan angkat kaki.

Pakar Ilmu Politik University of British Columbia, Paul Quirk, malah meminta publik untuk menyoroti regulasi negara yang tak mengatur masalah "Presiden enggan angkat kaki dari Gedung Putih". "Sistem hukum mana yang mesti diterapkan?" tanya Quirk.

Pakar Ilmu Politik Universitas New Haven, Joshua Sandman, punya pandangan lain lagi. Kendati ia yakin Trump tidak akan sekeraskepala itu, Sandman tetap memberikan saran bila memang harus menghadapi Trump yang ogah pergi pada 21 Januari 2021 mendatang.

"Langkah pertama ada di Kongres dan partainya yang harus meyakinkannya untuk pergi," kata Sandman. "Jika ia ingin berdiam di Gedung Putih, ya silakan, toh tidak akan ada artinya."

"Gedung Putih adalah simbol, bukan letak kekuasaannya," imbuh Sandman. Ia bahkan mengklaim kekhawatiran Trump enggan angkat kaki dari Gedung Putih adalah fiksi ilmiah belaka.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait