Vaksinnya Diklaim Beri Perlindungan 100 Persen Dari Corona Berat, Moderna Ajukan Izin Darurat
Health
Vaksin COVID-19

Adapun klaim tersebut didasarkan pada hasil utuh evaluasi terhadap uji klinis tahap III yang telah melibatkan 30 ribu relawan di Amerika Serikat. Terdapat 196 relawan uji klinis Moderna yang positif terinfeksi COVID-19.

WowKeren - Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Moderna, mengklaim vaksin virus corona yang mereka kembangkan bisa 100 persen melindungi relawan uji coba dari gejala parah COVID-19. Vaksin tersebut juga disebut menunjukkan konsistensi untuk semua usia, ras, etnis, dan demografi jenis kelamin.

Adapun klaim tersebut didasarkan pada hasil utuh evaluasi terhadap uji klinis tahap III yang telah melibatkan 30 ribu relawan di AS. Diketahui, terdapat 196 relawan uji klinis Moderna yang positif terinfeksi COVID-19.

Dari jumlah tersebut, 185 orang berasal dari kelompok penerima plasebo (obat kosong) dan 11 orang berasal dari kelompok penerima suntikan calon vaksin. Adapun dari 196 kasus COVID-19 tersebut, 30 orang di antaranya memiliki gejala parah atau berat dan seorang di antaranya akhirnya meninggal.

30 orang yang mengalami COVID-19 berat tersebut dipastikan berasal dari kelompok penerima plasebo dan tidak mendapat suntikan calon vaksin Moderna. Oleh sebab itu, Moderna mengklaim bahwa vaksin yang mereka kembangkan 100 persen mampu melindungi penggunanya dari gejala COVID-19 parah.

Dari 196 kasus COVID-19 yang ditemukan di uji klinis vaksin Moderna, 33 orang di antaranya berusia di atas 65 tahun. Kemudian 42 relawan berasal dari berbagai kelompok ras, termasuk 29 Latin, 6 kulit hitam, 4 Asia-Amerika, dan 3 peserta multiras.


Tak hanya itu, Moderna juga melaporkan tak adanya efek samping baru yang muncul selama pemantauan dilakukan secara internal. Adapun efek samping yang paling umum dirasakan relawan adalah kelelahan, kemerahan dan nyeri di tempat suntikan, sakit kepala dan nyeri tubuh yang meningkat setelah dosis kedua, namun hanya sebentar.

"Kami yakin memiliki vaksin yang sangat mujarab dan memiliki data untuk membuktikannya," terang Kepala Medis Moderna, Tal Zaks, Senin (30/11) kemarin. "Kami berharap dapat memainkan peran utama untuk titik balik pandemi ini."

Sementara itu, hasil evaluasi akhir juga menunjukkan bahwa efikasi vaksin Moderna secara keseluruhan dalam melawan infeksi COVID-19 mencapai sebesar 94,1 persen. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding dengan yang telah diumumkan Moderna pada 16 November 2020 lalu, yaitu 94,5 persen, namun dinilai tidak signifikan secara statistik.

"Vaksin itu menyebabkan gejala mirip flu yang signifikan pada beberapa peserta, yang sejalan dengan vaksin yang begitu manjur," pungkas Zaks. "Tapi sejauh ini tidak menimbulkan masalah keamanan yang signifikan."

Dengan hasil yang dinilai memuaskan tersebut, Moderna langsung mengajukan izin penggunaan darurat di Amerika Serikat dan juga Eropa pada Senin kemarin. Dengan demikian, Moderna menyusul langkah Pfizer yang sudah mengajukan permohonan yang sama ke FDA seminggu sebelumnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts