Menteri Jokowi Dikritik Lebih Sibuk Urusi Investasi Ketimbang COVID-19
Instagram/kemensetneg.ri
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, juga menyarankan agar Jokowi membentuk tim purnawaktu untuk menangani COVID-19 agar pandemi dapat cepat berakhir.

WowKeren - Cara Presiden Joko Widodo menangani pandemi virus corona (COVID-19) dikritik oleh ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri. Menurut Faisal, para Menteri Jokowi yang seharusnya bertanggungjawab terhadap persoalan COVID-19 justru sibuk mengurusi investasi.

"Pak Presiden, para menteri yang bertanggung jawab dalam penanganan COVID-19 lebih sibuk urusi investasi," cuit Faisal dalam akun Twitter pribadinya pada Kamis (3/12). "Mereka sering ke luar negeri berhari-hari. Kalau mengurusi pengadaan, mereka memang sangat jempolan."

Selain itu, Faisal juga menyarankan agar Jokowi membentuk tim purnawaktu untuk menangani COVID-19 agar pandemi dapat cepat berakhir. Menurut Faisal, penanganan COVID-19 tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada Menteri karena mereka juga sudah memiliki tugas lain yang sangat banyak.

"Pak Presiden, tolong segera selamatkan Indonesia. Jangan berharap para menteri menangani COVID-19 karena tugas mereka sudah sangat banyak. Ini bukan kerja sambilan," tulis Faisal. "Bentuk tim purnawaktu yg profesional dan ahlinya."


Menteri Jokowi

Twitter/@FaisalBasri

Sebagai informasi, sejumlah Menteri kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin diketahui memang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri dalam beberapa waktu belakangan. Salah satunya adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang baru saja bertolak ke Jepang untuk mencari dukungan dalam pendirian Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Diketahui, SWF Indonesia yang akan dinamakan Nusantara Investment Authority merupakan lembaga yang dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang diberi kewenangan khusus guna mengelola dana investasi. Lembaga itu akan berfungsi mengelola investasi dan menunjang pembangunan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Indonesia baru saja melaporkan rekor baru dengan tambahan 8.369 kasus positif COVID-19 dalam sehari pada Kamis (3/12). Adapun rekor ini jauh melebihi rekor sebelumnya, dimana Indonesia hanya mencatat penambahan sebanyak 6.267 kasus dalam sehari pada Minggu (29/11) lalu. Dengan demikian, jumlah kumulatif kasus COVID-19 di Tanah Air kini mencapai 557.877 kasus.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts