Ribuan Pengungsi Gempa Majene Sulit Dapat Makanan, Ini Situasi Terkini Di Tempat Bencana
Nasional
Gempa Majene Sulbar

Dampak gempa Majene, ribuan pengungsi dilaporkan kesulitan mendapatkan makanan akibat terisolir. Begini kondisi memprihatinkan di lokasi bencana pascagempa.

WowKeren - Gempa yang mengguncang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Jumat (15/1) telah menewaskan lebih dari 45 orang. Kini, ribuan pengungsi dari dua kecamatan Majene dilaporkan mulai mengalami kesulitan makanan.

Dilansir BBCIndonesia, gempa berkekuatan magnitudo 6,2 itu telah membuat sejumlah jalan terputus akibat tertutup longsoran batu. Salah satunya adalah jalan antara Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene. Situasis ini membuat para pengungsi menjadi terisolir sehingga sulit mengakses makanan.

”Makanya bantuan itu tidak ada yang sampai ke Majene,” kata wartawan BBC Indonesia, Edyatma pada Sabtu (16/1). “Semua (bantuan) terfokus ke Mamuju.”

Laporan ini juga dibenarkan oleh Kasi Sumber Daya Tim Basarnas Mamuju, Arianto Ardi. Ia menyebut akses jalan Mamuju ke Majene terputus. Akibatnya, bantuan baru bisa disalurkan ke Mamuju dan proses evakuasi pun mengalami hambatan.

”Iya terputus, untuk akses Mamuju ke Majene terputus,” ujar Arianto. “Jadi kami fokus di kota Mamuju karena di sini diperkirakan beberapa titik belum dievakuasi.”

Sebagai informasi, para pengungsi didominasi dari warga yang tinggal di daerah pesisir. Mereka sudah mengungsi ke pegunungan sejak Jumat (15/01) setelah BMKG mengeluarkan peringatan ancaman adanya tsunami.

”Sejak kemarin hujan deras, sehingga banyak masalah yang sekarang dihadapi pengungsi yang ada di gunung,” jelas Edyatma. “Mereka kekurangan tenda, selimut, dan lain-lain. Banyak yang sakit tidak mendapat perawatan, karena puskesmas di Kecamatan Ulumanda khususnya yang ada di gunung itu roboh, tidak ada aktivitas. Jadi warga tidak tertangani tim medis.”

Kecamatan Malunda merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak parah akibat gempa bumi di Kabupaten Majene. Lokasi Malunda sendiri berada di dekat episentrum gempa bumi bermagnitudo 6,2, pada Jumat (15/01) dini hari.


Warga yang tinggal di 12 desa/kelurahan di Kecamatan Malunda telah mengungsi setelah rumah mereka banyak yang ambruk. Mereka terpaksa mengevakuasi diri ke dataran lebih tinggi.

Kepala Desa Maliaya di Kecamatan Malunda, Masri mengatakan sejumlah masalah kini mulai muncul di lokasi pengungsian. Warga mulai kekurangan bahan makanan dan persedian yang dibawa semakin menipis.

Masri mengungkapkan warganya membutuhkan makanan berupa beras, telur, mie instan dan air minum. Mereka juga memerlukan susu bayi serta popok untuk anak dan lansia.

Selain masalah makanan, para pengungsi juga mengalami masalah terkait tempat tinggal. Mereka disebutkan membutuhkan tenda dan tikar. Masri bahkan menyebut beberapa pengungsi sampai harus berteduh di kandang ayam atau menumpang di tenda warga lainnya.

”Pemerintah desa berusaha untuk menutupi dulu sementara, sambil menunggu bantuan,” beber Masri. “Saya berusaha sendiri untuk cari makanan untuk warga saya, yang beras ini terutama.”

”Ada yang tinggal di bawah kolong kandang ayam,” sambungnya. “Kalau malam kita arahkan ke tenda karena kita khawatirkan jangan sampai ada gempa susulan kemudian itu kandang yang roboh.”

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan akses jalan dari Mamuju ke Majene kini sudah bisa dilalui kendaraan. Ia juga membenarkan telah terjadi longsor di sejumlah titik akibat gempa besar yang mengguncang kemarin.

”Selain itu, ada beberapa titik longsor di Kabupaten Majene adalah longsor tiga titik di sepanjang jalan poros Majene-Mamuju,” kata juru bicara BNPB, Raditya Jati dalam keterangan kepada wartawan, Sabtu (16/01). “Akses jalan sudah bisa dilalui kendaraan.”

BNPB telah menetapkan status tanggap darurat di tingkat provinsi Sulbar sejak Sabtu (16/1) pagi. Tak hanya itu, BNPB juga telah menyerahkan bantuan sebesar Rp4 miliar kepada pemerintah daerah untuk membantu korban gempa.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts