Pakar menilai tren Zoomancing pada para pasangan di tengah pandemi COVID-19 memberi peluang bagi orang-orang untuk berkaca lebih jauh mengenai cara mereka membangun hubungan.
- Nidya Putri
- Minggu, 14 Februari 2021 - 17:48 WIB
WowKeren - Hari Valentine menjadi momen istimewa yang dinantikan oleh pasangan. Pasalnya, dalam kesempatan ini biasanya para pasangan akan memberikan hadiah berubah coklat atau karangan bunga.
Namun, perayaan Hari Valentine di tahun ini ada sesuatu yang berbeda. Adanya pandemi serta beberapa negara yang memutuskan untuk lockdown membuat pasangan mau tak mau hanya bisa berinteraksi secara virtual.
Seperti yang dilakukan oleh Kristina yang merupakan warga Afrika Selatan yang bekerja di Inggris ini. Ia mengungkap, semenjak diberlakukannya lockdown dirinya beralih ke kencan virtual dengan menggunakan Zoom.
"Lockdown benar-benar bikin saya tidak bisa keluar untuk pacaran," ujarnya. "Saya masih ingin nongkrong di bar dan minum bersama teman-teman. Tapi saya tidak lagi kangen dengan proses bertemu seseorang yang belum saya cukup tahu seperti sebelumnya."
"Dengan (pacaran) lewat video, kita tetap berada di rumah, kalau ada yang salah dan jadi tidak canggung," sambungnya. "Saya pun bisa hemat uang dan waktu."
Saat internet kian menjadi cara yang lazim bagi para sejoli untuk saling bertemu di belahan dunia manapun dalam dua dekade terakhir, pacaran selama pandemi ini telah mengalami sejumlah perubahan karena ada hambatan untuk bertemu dan jalan-jalan. Berbagai aplikasi kencan mengalami peningkatan jumlah anggota di seluruh dunia pada 2020.
Banyak orang pun kini menghabiskan lebih banyak uang untuk mengunjungi aplikasi kencan, menurut lembaga konsultan We Are Social, yang menemukan bahwa Tinder akhir tahun lalu berada di atas TikTok dan Netflix dalam hal pengeluaran penggunanya.
Namun menurut sejumlah perusahaan jasa kencan mengungkapkan bahwa beberapa survei mengungkapkan perubahan lainnya. Mereka menemukan bahwa bahkan di tempat-tempat yang secara teknis masih sulit untuk bertemu secara langsung - meski secara sosial berjauhan - ada peningkatan jumlah pengguna aplikasi untuk memilih menunda pacaran secara langsung dan malah memilih berkontak dahulu secara daring dengan calon jodoh mereka untuk sekian lama.
Tren ini sendiri didorong oleh bertambahnya penggunaan sambungan lewat video (video calls), sehingga dari situ muncul istilah Zoomancing. "Cara yang lama dan biasa, yaitu bertemu secara langsung sudah sulit dilakukan, keinginan orang-orang untuk bertemu seseorang dan berkontak memang belum berakhir," kata Hayley Quinn, seorang instruktur kencan dan pembicara TedX kepada BBC. "Namun di masa pandemi ini mendorong tren Zoomancing, yang mana orang-orang ingin cari tahu satu sama lain lebih baik lagi, sebelum berkomitmen untuk pergi pacaran secara langsung."
Para pakar yakin bahwa pembatasan kehidupan sosial telah memberi peluang bagi orang-orang untuk berkaca lebih jauh mengenai cara mereka membangun hubungan. Helen Fisher, paker antropologi biologis dan ketua penasihat ilmiah perusahaan Match.com, yakin bahwa ada penguatan tren yang dia sebut "cinta pelan-pelan."
"Saya sudah mensurvei kaum lajang di AS selama bertahun-tahun. Sebelum pandemi, hanya 6% yang menggunakan percakapan video. Kini sudah dilakukan oleh satu dari lima kaum lajang," jelasnya. "Orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan mereka menikmati percakapan yang lebih bermakna, lebih jujur, transparan, dan membuka diri."
(wk/nidy)