Lebih Rendah Dari Sinovac, BPOM Sebut Efikasi Vaksin AstraZeneca Hanya 62,1 Persen
Pexels/Nataliya Vaitkevich
Nasional
Vaksin COVID-19

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun mengungkapkan jika vaksin buatan farmasi Inggris AstraZeneca memiliki tingkat efikasi (kemanjuran) vaksin 62,1 persen yang artinya lebih rendah dari vaksin Sinovac buatan Tiongkok.

WowKeren - Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin virus corona AstraZeneca mendarat di Indonesia sejak Senin (8/3) kemarin. Hal disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi.

"Pada hari ini, Indonesia menerima pengiriman pertama vaksin AstraZeneca sebesar 1.113.600 vaksin jadi, dengan total berat 4,1 ton yang terdiri dari 11.136 karton," ungkap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam video yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (8/3). "Jumlah 1.113.600 vaksin ini adalah bagian awal dari batch pertama pemberian vaksin melalui jalur multilateral."

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun mengungkapkan jika vaksin buatan farmasi Inggris itu memiliki tingkat efikasi (kemanjuran) vaksin 62,1 persen. "Efikasi vaksin dengan 2 dosis standar yang dihitung setelah 15 hari pemberian dan pemantauan 2 bulan menunjukkan efikasi 62,1 persen," ujar Kepala BPOM Penny Lukito dalam jumpa pers virtual, Selasa (9/3).


Sedangkan untuk imunogenisitas atau kadar antibodi yang dihasilkan vaksin AstraZeneca, Penny menjelaskan jika pemberian vaksin ini bisa merangsang antibodi dewasa dan lansia . Rata rata antibodinya untuk dewasa 32 kali, untuk lansia 21 kali.

Namun, efikasi vaksin AstraZeneca berarti lebih rendah dari vaksin Sinovac yang telah mendapatkan EUA. Efikasi vaksin Sinovac terhitung 65,3 persen.

Sementara itu, diketahui jika vaksin AstraZeneca nantinya akan dialokasikan bagi mereka yang masuk dalam tahap vaksinasi kedua. Adapun kelompok penerima vaksinasi tahap kedua adalah lansia dan petugas layanan publik seperti pedagang pasar, ojek online, serta para guru dan tenaga pendidik.

Seperti yang diketahui, vaksin Corona AstraZeneca ini sebelumnya sudah masuk dalam daftar penggunaan izin darurat (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Adapun hasil analisis interim uji vaksin berteknologi adenovirus ini di sejumlah negara dengan varian baru Corona seperti Afrika Selatan, Brasil hingga Inggris sebesar 70,4 persen.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts