Pemeran Remaja di Sinetron ‘Zahra’ Resmi Diganti, Ernest Prakasa: Masalah Selesai?
Instagram/ernestprakasa
Selebriti
Kontroversi Sinetron Zahra

Ernest Prakasa kembali buka suara setelah sempat mengecam sinetron ‘Zahra’ yang diperankan oleh seorang remaja berusia 15 tahun, begini pendapatnya usai sang pemain resmi diganti.

WowKeren - Ernest Prakasa merupakan salah satu publik figur Tanah Air yang ikut buka suara dan melayangkan kecaman terhadap sinetron “Suara Hati Istri”. Bukan tanpa alasan, Ernest mengkritik pemilihan aktris 15 tahun sebagai pemeran istri ketiga.

Selain Ernest juga ada banyak selebriti lain yang menyuarakan kritikan yang sama. Hingga pada akhirnya pemain Zahra yang diperankan oleh Lea Ciarachel pun kini resmi diganti. Terkait respons ini, Ernest Prakasa kembali memberikan tanggapannya. “MASIH SOAL SINETRON. Pemeran remaja diganti, masalah selesai? #OcehanErnest,” tulisnya di Instagram, Jumat (4/6).

Menurutnya, pergantian pemeran tak lantas menyelesaikan masalah yang ramai disorot. Ernest menilai jika masalah terdapat pada alur cerita yang mengusung perihal pernikahan di usia dini.

“Apakah diganti pemeran menyelesaikan masalah? Sebenarnya nggak. Mungkin lebih lo akan mikir ‘ribet banget sih lu mau lu apa, rempong banget’ terserah. Gue hanya akan cerita kenapa menurut gue sinetron ini masih bermasalah,” ungkap Ernest mengawali.

Ernest lantas mengingatkan kembali mengenai Undang-undang tahun 1974 bahwa usia legal untuk pernikahan di Indonesia adalah 16 tahun. Menurutnya sejak tahun itu hingga sekarang sudah ada banyak pelajaran negatif yang diambil tentang usia pernikahan dini hingga akhirnya memunculkan revisi bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun.


“Di sini letak masalahnya sebenarnya. Menurut gue, kita memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi bahwa pernikahan yang terlalu muda itu berbahaya. Lebih banyak negatifnya daripada positifnya untuk si perempuan yang bisa ada di lingkungan yang mungkin tidak akan se-ideal jika dia menikah di usia yang lebih matang,” tutur Ernest.

Hal itu lah yang menjadi sorotan tajam publik saat ini terhadap sinetron “Zahra”. Alur ceritanya yang terkesan meromantisasi pernikahan dini yang akhirnya ramai mendapatkan kecaman dari publik.

Tak sampai di sana, Ernest juga menanggapi perihal pembelaan yang sempat diberikan terhadap sinetron ini hingga dibandingkan dengan konten YouTube. Suami Meira Anastasia ini memberikan jawaban telak jika keduanya tak bisa dibandingkan lantaran sinetron tayang di kanal milik publik.

“Itu YouTube masalahnya. YouTube itu bukan TV. TV itu kanal publik, karena itu orang-orang yang menumpang frekuensi milik negara tersebut punya tanggung jawab moral buat mengedukasi masyarakat. Beda sama konten streaming, beda sama film, beda sama YouTube,” tandasnya.

Meski melayangkan kritik, namun Ernest menegaskan jika ia tak bertujuan atau ingin agar sinetronnya diberhentikan. Ia hanya berharap masyarakat semakin sadar tentang dampak besar pernikahan remaja di era saat ini.

(wk/sept)

You can share this post!

Related Posts