Bukan COVID-19, Ini Deretan 'Penghancur' yang Banyak Dikeluhkan di Olimpiade Tokyo
Dunia
Olimpiade Tokyo

Meski wabah COVID-19 masih harus diwaspadai, beberapa situasi lain juga dikeluhkan para atlet karena mengganggu jalannya Olimpiade Tokyo, mulai dari suhu yang panas dan angin kencang.

WowKeren - Olimpiade Tokyo sudah dimulai sejak pekan lalu. Dibuka pada Jumat (23/7), sedianya turnamen olahraga internasional ini akan berlangsung di Jepang sampai awal Agustus 2021 mendatang.

Dan selayaknya berbagai agenda lain, sejumlah keluhan pun disampaikan atlet hingga ofisial atas pelaksanaan olimpiade ini. Namun bukan wabah COVID-19, rupanya atlet banyak yang mengeluhkan soal serangan panas yang terjadi di tengah olimpiade.

CNN melaporkan, pada Sabtu (24/7) kemarin saja, suhu mencapai 34 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban mencapai 80 persen. Situasi ini pun menjadi kendala tersendiri bagi sejumlah atlet, terutama untuk cabang olahraga yang berlangsung di luar ruangan.

Pemanah Rusia, Svetlana Gomboeva misalnya, sampai pingsan setelah menjalani pertandingan kualifikasi pada Jumat (23/7). Dokter untuk tim olimpiade Rusia melaporkan Gomboeva terserang serangan panas dan memang ia sempat terlihat "didinginkan" dengan paket es.


Sedangkan pada Senin (26/7) waktu setempat, atlet triathlon laki-laki sampai terjatuh di garis finish dan harus dibantu untuk meninggalkan trek. Petenis kawakan Novak Djokovic, yang mengincar gelar Golden Slam, juga mengeluhkan hal serupa.

"Kondisi iklim saat pertandingan saya sangat 'brutal'," ujar Djokovic, merujuk pada tingginya suhu dan kelembaban saat pertandingannya. Ia berharap agar jadwal pertandingan selanjutnya diatur di jam yang lebih memudahkan untuk para pemain.

Sementara itu, tim panahan Indonesia mengaku kesulitan mengatasi embusan angin yang diklaim lebih kencang daripada biasanya. "Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi memang ini hasilnya. Kondisi angin seperti ini jarang kami temui di Jakarta," kata pelatih tim panahan Indonesia, Permadi Sandra Wibawa.

"Hari ini kami mendapat informasi dari pelatih dayung, bahwa anginnya lebih kencang dari sebelumnya, seperti badai kecil," imbuh Permadi. "Ini yang membuat tim kesulitan, karena kurang siap dengan angin kencang."

Sedangkan sebelumnya pakar cuaca sudah mengingatkan soal potensi badai yang mendekat ke daratan Tokyo. Namun di sisi lain, wabah COVID-19 juga masih menjadi ancaman utama karena virus tersebut seolah tengah berkembang di "kampung atlet".

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts