Tak Semua Murid Di Dunia Bisa Ikuti PJJ Saat Pandemi, Ini Kata UNICEF
Official Site
Dunia
Sekolah di Tengah Corona

Selama pandemi berlangsung, murid-murid di dunia melangsungkan kegiatan belajar secara daring dari rumah. Akan tetapi, tidak semua murid bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

WowKeren - COVID-19 hingga saat ini masih menjadi wabah global yang menyerang negara-negara di dunia. Akibat dari pandemi ini, segala aktivitas masyarakat yang tadinya dikerjakan di luar, beralih ke dalam rumah, termasuk sekolah.

Selama pandemi, setiap murid di dunia menjalani kegiatan belajar secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Akan tetapi, tidak semua murid di dunia bisa mengikuti PJJ dikarenakan adanya keterbatasan. Hal tersebut diungkapkan oleh Dana selaku pihak UNICEF pada Selasa (27/7).

Adapun keterbatasan yang dimaksud adalah kurangnya akses membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengikuti kegiatan belajar. Hal ini diungkapkan oleh James Elder selaku Juru Bicara (Jubir) UNICEF dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss.

Elder menyampaikan bahwa UNICEF memperkirakan lebih dari 80 juta anak-anak tidak memiliki akses untuk mengikuti PJJ di seluruh Asia Timur dan Pasifik. Kemudian, kurang dari 1 persen, anak-anak di Uganda dan Sudan Selatan yang memiliki konektivitas internet di rumah. Sebagai informasi, sekolah di daerah tersebut telah ditutup selama masa pandemi berlangsung yakni sekitar 306 hari dan 231 hari.


Elder menjelaskan selain dikarenakan adanya pandemi COVID-19, sekolah di kedua negara itu ditutup disebabkan oleh adanya kecemasan terkait dengan kekerasan dan kehamilan pada remaja. Sekolah yang dulunya menjadi ruang belajar, bertemu dengan teman, bersosialisai, kini menjadi tempat yang menakutkan.

"Misalnya Uganda, antara Maret tahun lalu dan Juni tahun ini, ada lebih dari 30 persen peningkatan kehamilan di antara anak-anak berusia 10-24 tahun, saluran bantuan anak telah meningkat tiga digit," terang Elder. "Bahkan dengan sekolah-sekolah di belahan bumi Utara ditutup selama musim panas, lebih dari 600 anak di negara-negara yang tidak libur akademik masih terkena dampak penutupan sekolah."

Lebih lanjut, Elder mengungkapkan bahwa berdasarkan data PBB, ada sekitar 40 persen anak-anak di Afrika Timur dan Selatan, saat ini belum kembali ke sekolah. Hal ini dikarenakan terjadinya lonjakan COVID-19 baru-baru ini. Kemudian, diketahui ada sekitar 500 ribu siswa yang telah putus sekolah.

Selanjutnya, UNICEF merekomendasikan lima tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut dan bisa kembali membuka sekolah. Lima tindakan itu adalah melindungi keamanan sekolah dari virus COVID-19, anggaran pendidikan, menghilangkan segala hambatan, memenuhi persyaratan resmi, serta menyalurkan vaksin COVID-19 secara merata.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts