Komentator Olahraga Dipecat Usai Sebut Atlet Korsel Bermata Sipit di Olimpiade Tokyo
Instagram/jeoung_youngsik
Dunia
Kontroversi Olimpiade Tokyo

Saluran televisi ERT menyatakan telah mengakhiri kerjasama mereka dengan jurnalis veteran Dimosthenis Karmiris sebagai komentator tamu pada Selasa (27/7).

WowKeren - Seorang komentator olahraga di Yunani dipecat usai membuat komentar rasis mengenai salah satu atlet Korea Selatan di gelaran Olimpiade Tokyo 2020. Saluran televisi ERT menyatakan telah mengakhiri kerjasama mereka dengan jurnalis veteran Dimosthenis Karmiris sebagai komentator tamu pada Selasa (27/7).

Diketahui, komentar rasis tersebut disampaikan Karmiris usai atlet asal Korsel, Jeoung Young-sik, berhasil mengalahkan Panagiotis Gionis dari Yunani dalam tenis meja putra. Kala itu, Karmiris ditanya mengenai keterampilan pemain tenis meja Korsel tersebut.

"Mata mereka sipit sehingga saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa melihat bola bergerak bolak-balik," demikian pernyataan Karmiris kala itu.

Beberapa jam setelah Karmiris menyampaikan komentar tersebut di acara on-air, pihak ERT langsung mengeluarkan pernyataan. "Komentar rasis tidak memiliki tempat di televisi publik. Kolaborasi antara ERT dan Dimosthenis Karmiris dihentikan hari ini, segera setelah morning show," tegas pihak ERT.


Di sisi lain, Olimpiade Tokyo telah dimulai sejak Jumat (23/7) pekan lalu usai setahun ditunda karena pandemi COVID-19. Namun gelaran ini turut menuai kontroversi karena dikhawatirkan dapat memperburuk situasi pandemi COVID-19.

Belum genap seminggu Olimpiade digelar, Tokyo rupanya sudah mencatat rekor harian kasus COVID-19. Pejabat kesehatan mengatakan bahwa pada hari Selasa (27/7), Kasus baru COVID-19 di Tokyo mencapai rekor tertinggi dengan ada lebih dari 2.800 kasus baru.

Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Januari lalu. Para ahli percaya varian COVID-19 Delta yang pertama kali ditemukan di India juga ikut bertanggung jawab atas lonjakan kasus di Jepang baru-baru ini. Sejak awal pandemi tahun lalu, Tokyo telah mencatat lebih dari 200.000 kasus.

Tokyo sendiri kini berada di bawah status darurat keempat karena pandemi. Ini juga menjadi alasan panitia penyelenggara memutuskan bahwa Olimpiade Tokyo digelar tanpa penonton di stadion. Status darurat akan berlangsung hingga Olimpiade berakhir pada 8 Agustus.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts