Studi Temukan Risiko Pembekuan Darah Lebih Rendah Setelah Dosis Kedua AstraZeneca
Pixabay/Ilustrasi
Health
Vaksin COVID-19

Penelitian tersebut dipimpin dan didanai sendiri oleh AstraZeneca. Temuan studi tersebut juga berpotensi menjawab sejumlah kekhawatiran terkait efeksi samping Vaksin COVID-19 AstraZeneca.

WowKeren - Studi baru menunjukkan adanya risiko tambahan kecil pembekuan darah yang langka dengan trombosit rendah setelah dosis pertama Vaksin AstraZeneca. Namun tidak risiko tambahan setelah dosis kedua.

Penelitian yang dipimpin dan didanai oleh AstraZeneca sendiri tersebut telah diterbitkan dalam jurnal medis Lancet. Studi itu menemukan bahwa perkiraan tingkat trombosis dengan sindrom trombositopenia (TTS) setelah dosis pertama adalah 8,1 per juta di antara mereka yang telah divaksin.

Namun setelah dosis kedua, angka tersebut turun menjadi 2,3 per juta. Angka tersebut sebanding dengan yang terlihat pada kelompok orang yang tidak divaksinasi.

Diketahui, regulator obat- obatan Uni Eropa telah menyelidiki kasus-kasus TTS sejak Maret. Mereka juga telah menemukan kemungkinan kaitannya dengan vaksin AstraZeneca dan suntikan vaksin COVID-19 dosis tunggal Johnson & Johnson. Meski demikian, regulator obat- obatan Uni Eropa menyatakan bahwa manfaat keseluruhan dari kedua vaksin lebih besar daripada risiko apa pun yang ditimbulkannya.


Sementara itu, temuan baru ini mengevaluasi kasus yang dilaporkan pada 30 April yang terjadi dalam 14 hari setelah menerima dosis pertama atau kedua. Studi ini dilakukan dengan menggunakan database keamanan global AstraZeneca.

Menurut studi tersebut, 13 kasus TTS telah diidentifikasi secara global setelah dosis kedua vaksin AstraZeneca pada orang berusia 45 tahun hingga 85 tahun, delapan di antaranya adalah wanita. Studi tersebut juga menunjukkan ada sekitar 399 kasus TTS yang dilaporkan setelah dosis pertama vaksin AstraZeneca.

"Kecuali TTS diidentifikasi setelah dosis pertama, hasil ini mendukung pemberian jadwal dua dosis Vaxzevria (nama vaksin COVID-19 AstraZeneca), seperti yang ditunjukkan, untuk membantu memberikan perlindungan terhadap COVID-19 termasuk terhadap varian kekhawatiran yang meningkat," tutur eksekutif senior AstraZeneca Mene Pangalos dalam sebuah pernyataan.

Pada bulan Mei lalu, regulator obat Uni Eropa telah menyarankan agar orang yang melaporkan TTS setelah suntikan pertama Vaksin AstraZeneca tidak melakukan suntikan kedua.

Di sisi lain, sebuah penelitian yang diterbitkan New England Journal of Medicine pada Rabu (21/7) menemukan bahwa dua dosis vaksin Pfizer dan AstraZeneca hampir sama tingkat keampuhannya terhadap varian Delta yang sangat menular. Studi tersebut mengkonfirmasi temuan utama yang diberikan oleh Public Health England (PHE) pada bulan Mei lalu, tentang kemanjuran vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech dan Oxford- AstraZeneca berdasarkan data yang diperoleh.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts