Israel Tawarkan Dosis Ketiga Vaksin COVID-19 Untuk Warga Berusia di Atas 60 tahun
pexels.com/Ilustrasi
Dunia
Vaksin COVID-19

PM Naftali Bennett mengumumkan hal tersebut pada Kamis (29/7) dan membuat Israel menjadi negara pertama yang menawarkan dosis ketiga vaksin buatan Negara Barat kepada masyarakat umum dalam skala luas.

WowKeren - Israel akan menawarkan booster atau suntikan ketiga vaksin virus corona (COVID-19) bagi warganya yang berusia di atas 60 tahun. Perdana Menteri Naftali Bennett mengumumkan kebijakan tersebut pada Kamis (29/7) dan membuat Israel menjadi negara pertama yang menawarkan dosis ketiga vaksin buatan Negara Barat kepada masyarakat umum dalam skala luas.

"Saya mengumumkan malam ini awal dari kampanye untuk menerima vaksin booster, vaksin ketiga," ujar Bennett dalam pidato yang disiarkan secara nasional. "Kenyataan membuktikan bahwa vaksin itu aman. Kenyataan juga membuktikan bahwa vaksin melindungi terhadap morbiditas dan kematian yang parah. Dan seperti vaksin flu yang perlu diperbarui dari waktu ke waktu, kasus ini juga sama."

Penerima booster ini adalah semua orang yang berusia di atas 60 tahun dan telah divaksinasi lebih dari lima bulan yang lalu. Isaac Herzog yang merupakan Presiden baru Israel disebut akan menjadi orang pertama yang mendapatkan suntikan booster tersebut.

Bennett sendiri masih berusia 49 tahun, sehingga menurut kebijakannya ia belum bisa mendapatkan booster. Namun Bennett sempat mengatakan bahwa ia akan menelepon ibunya setelah konferensi pers tersebut untuk mendorongnya mendapatkan suntikan booster.


Di sisi lain, baik Amerika Serikat maupun Uni Eropa belum menyetujui suntikan booster vaksin COVID-19. Pasalnya, masih belum terbukti apakah dosis ketiga akan membantu penerima menangkal COVID-19. Dan jika booster memang membantu, masih belum diketahui siapa saja yang membutuhkannya dan kapan waktu yang tepat untuk memberikan suntikannya.

Bennett sendiri menyatakan bahwa tim penasihat ahli sangat setuju dengan kebijakan ini, bahkan dengan selisih 56:1. Menurutnya, rekomendasi tersebut dibuat setelah "penelitian dan analisis yang cukup besar" dan bahwa informasinya akan dibagikan ke seluruh dunia.

"Temuan menunjukkan bahwa ada penurunan kekebalan tubuh dari waktu ke waktu, dan tujuan booster adalah untuk memperkuatnya kembali," papar Bennett. "Sehingga secara signifikan mengurangi kemungkinan infeksi dan penyakit serius."

Sebagai informasi, Israel telah melakukan salah satu kampanye vaksinasi paling agresif dan sukses di dunia sejak awal tahun ini dengan menggunakan vaksin Pfizer/BioNtech. Lebih dari 57 persen warga negara Israel telah menerima dua dosis vaksin Pfizer, dan lebih dari 80 persen populasi usia di atas 40 tahun telah divaksinasi.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts