Tinggalkan Afghanistan, Menteri Ini Rela Jadi Kurir Makanan di Negeri Orang
SerbaSerbi

Masyarakat Afghanistan berupaya keluar dari negara itu setelah Taliban berkuasa sehingga memunculkan pertanyaan bagaimana nasib mereka setelah mendarat di negeri orang.

WowKeren - Situasi Afghanistan yang masih kacau menyisakan kekhawatiran di tengah masyarakat. Mereka berusaha untuk segera hengkang dari negara yang kini sudah dikuasai oleh kelompok militan Taliban.

Hal ini pun memunculkan pertanyaan terkait bagaimana nasib orang-orang Afghanistan yang meninggalkan negaranya yang kemudian mendarat di negeri orang. Di tengah kekacauan ini, ramai kisah hidup seorang menteri yang rela banting setir menekuni pekerjaan yang jauh dari bidangnya di negeri orang.

Adalah Sayed Sadaat, seorang yang pernah menjadi menteri komunikasi di pemerintahan Afghanistan sebelum dia memutuskan untuk pindah ke Jerman pada Desember 2020 lalu. Ia saat ini bekerja sebagai kurir pengantar makanan di kota timur Leipzig.

Keputusannya untuk mengambil pekerjaan ini pun ramai menuai kritik dari keluarganya. Sadaat pernah bertugas di pemerintahan selama dua tahun, sebelum akhirnya meninggalkan kantor pada 2018. Dia memutuskan untuk mundur dari lingkup pemerintah karena ketidaksepakatan dengan anggota di lingkaran presiden.

"Saya tidak merasa bersalah," ujar pria 49 tahun tersebut melansir Al Jazeera. "Saya berharap politisi lain juga mengikuti jalan yang sama, bekerja dengan publik daripada hanya bersembunyi."


Dengan AS menarik pasukan, jumlah pencari suaka Afghanistan di Jerman meningkat sejak awal 2021. Data dari Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi menunjukkan angka itu melonjak lebih dari 130 persen.

Meski berkewarganegaraan ganda Inggris-Afghanistan, ia lebih memilih Jerman sebagai tujuannya. Ia memanfaatkan kesempatan terakhirnya untuk melakukannya sebelum jalan itu ditutup oleh keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Namun semua tak seindah rencana. Dalam jangka panjang, ia berharap memiliki masa depan finansial yang lebih baik dan pekerjaan di sektor telekomunikasi dan TI. Meski memiliki latar belakang demikian, Sadaat kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengannya.

Salah satunya karena kendala bahasa. Setiap hari dia les bahasa Jerman di sekolah bahasa selama 4 jam sebelum memulai shift malam enam jam mengantarkan makanan dengan mengayuh sepeda.

"Awalnya memang menyenangkan tetapi sulit," ujarnya soal tantangan belajar bersepeda di tengah lalu lintas kota. "Semakin Anda pergi keluar dan semakin banyak Anda melihat orang, semakin banyak Anda belajar."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts