Prancis Tegas 'Depak' 3.000 Lebih Nakes Lantaran Belum Divaksin COVID-19
AP
Dunia
Vaksin COVID-19

Menkes Prancis Olivier Veran mengonfirmasi penonaktifan lebih dari 3.000 tenaga kesehatan yang belum menerima vaksin COVID-19. Mereka bisa bekerja lagi kalau sudah divaksin.

WowKeren - Pemerintah Prancis menerapkan sejumlah kebijakan ketat untuk mengendalikan wabah COVID-19. Termasuk dengan mandat Presiden Emmanuel Macron yang mewajibkan seluruh tenaga kesehatan untuk menerima vaksinasi COVID-19.

Mandat ini dikeluarkan Macron pada Juli 2021 kemarin, dengan batas akhir penyuntikan dosis pertama pada Rabu (15/9) waktu setempat. Sementara batas akhir penerimaan vaksin dosis penuh adalah pada 16 Oktober 2021 mendatang.

Mandat dikecualikan untuk para nakes yang mampu menunjukkan rekomendasi tidak bisa menerima vaksin COVID-19 atau mereka merupakan penyintas penyakit infeksi tersebut. Bila tidak mengikuti mandat, maka para nakes ini akan dinonaktifkan tanpa bayaran sebagai sanksi.

Dan per Kamis (16/9), pemerintah Prancis tegas menonaktifkan lebih dari tiga ribu nakes di seantero negeri akibat gagal menerima vaksinasi COVID-19 sampai batas waktu yang ditentukan. Angka ini berarti sekitar 0,001% dari total 3 juta tenaga kesehatan yang bekerja di Prancis.


Perihal penonaktifan ini turut dibenarkan oleh Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran, dikutip dari UPI News pada Jumat (17/9). Dan kembali Veran menegaskan bahwa para nakes yang dinonaktifkan sementara ini tidak dipecat alias bisa kembali bekerja lagi nanti bila sudah menerima vaksin sesuai instruksi yang berlaku.

Saat ini mereka hanya dinonaktifkan sementara tanpa menerima bayaran, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Prancis. Namun ternyata, menurut Veran pula, ada banyak nakes yang memilih untuk mengundurkan diri ketimbang menerima vaksin COVID-19 sesuai instruksi pemerintah.

Sikap penolakan menerima vaksin COVID-19 memang terus bergema di berbagai negara. Bahkan belum lama ini Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga sempat murka terhadap kelompok antivaksin yang menurutnya menjadi "duri" dalam upaya pengendalian wabah COVID-19.

Sementara beberapa waktu lalu seorang suster di Jerman diringkus setelah mengganti 8.500 dosis vaksin COVID-19 dengan larutan garam. Polisi pun mengidentifikasi sang suster sebagai bagian dari kelompok yang skeptis terhadap vaksin COVID-19.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts