Perekonomian Inggris Terancam Imbas Angka Kelahiran yang Terus Menurun
Dunia

Kurangnya angka kelahiran bayi berisiko menyebabkan stagnasi ekonomi jangka panjang bagi Inggris. Kondisi ini akan berdampak pada situasi pekerja yang semakin berkurang.

WowKeren - Inggris mencatat penurunan pada angka kelahiran bayi di negara itu. Yang mana, jika kondisi ini terus berkelanjutan maka berpotensi mengancam perekonomian negara itu.

Kurangnya angka kelahiran bayi berisiko menyebabkan stagnasi ekonomi jangka panjang bagi Inggris. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh lembaga pemikir kebijakan publik politik Inggris pada Senin (20/9) melalui sebuah laporan.

Penurunan tingkat kesuburan akan memperdalam "baby bust" negara itu. Baby bust merupakan fenomena ketika suatu negara mencatat tingkat penurunan yang tajam dalam angka kelahiran. Social Market Foundation (SMF) yang berbasis di London mengatakan fenomena itu akan mendorong munculnya tren jangka panjang terhadap orang yang memiliki lebih sedikit anak.

Alhasil, kondisi ini akan berdampak pada situasi pekerja di Inggris yang semakin berkurang seiring dengan menurunnya usia produktif. Selain itu, rendahnya angka kelahiran dapat membawa Inggris pada melemahnya perekonomian dan keuangan publik yang tidak berkelanjutan.


Pada tahun 2020, jumlah anak per wanita, juga dikenal sebagai tingkat kesuburan total (Total Fertility Rate/TFR), mencapai 1,58 di Inggris dan Wales. Angka ini hampir setengah dari angka puncak yang pernah tercatat pasca-Perang Dunia II yang mencapai 2,93.

Sejak awal 1970-an, TFR berada di bawah tingkat penggantian kritis 2,1 anak. SMF mengatakan tergantung pada skala imigrasi dan tren harapan hidup, Inggris dapat mengalami penyusutan populasi di abad ke-21.

Kepala Ekonom di SMF Aveek Bhattacharya mengatakan bahwa kondisi ini harus mendapatkan perhatian. Sebab jika tidak, bisa mengancam kesejahteraan ekonomi masyarakat.

"Pertanyaan apakah pemerintah harus campur tangan untuk mencoba dan meningkatkan angka kelahiran jelas merupakan topik sensitif yang harus ditangani dengan hati-hati," ujarnya. "Namun, mengingat penurunan tingkat kesuburan yang mengkhawatirkan, dan risiko penuaan populasi terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi kita, ini adalah diskusi yang tidak boleh kita hindari."

Laporan tersebut juga menyarankan kebijakan yang bisa "sedikit" membantu memulihkan kondisi sekarang ini. Intervensi yang efektif dapat mencakup beberapa hal termasuk perawatan anak yang lebih murah.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts