Ledakan Terjadi di Masjid Syiah Afghanistan Saat Salat Jumat, Taliban Ungkap Banyak Korban Jiwa
AP Photo/Abdullah Sahil
Dunia

Penyebab ledakan di masjid Syiah yang terletak kota Kunduz tersebut masih belum jelas. Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggungjawab atas insiden tersebut.

WowKeren - Taliban melaporkan sebuah masjid di kota Kunduz di timur laut Afghanistan hancur akibat ledakan dahsyat saat salat Jumat berlangsung. Ledakan ini disebut telah menyebabkan banyak kematian.

"Sore ini, sebuah ledakan terjadi di sebuah masjid rekan-rekan Syiah kami ... akibatnya sejumlah rekan kami menjadi martir dan terluka," demikian keterangan juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, di Twitter pada Jumat (8/10).

Menurutnya, unit khusus telah tiba di tempat kejadian untuk menginvestigasi ledakan tersebut. Penyebab ledakan tersebut masih belum jelas. Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Media lokal melaporkan puluhan korban dalam insiden ledakan ini. Sedangkan warga di Kunduz mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ledakan menghantam masjid saat salat Jumat.


Seorang saksi bernama Ali Reza mengaku sedang menunaikan ibadah salat kala ledakan terjadi. Ia juga mengaku melihat banyak korban. Video dan foto di media sosial menunjukkan orang-orang memasuki masjid yang hancur dan memindahkan tubuh jemaah ke ambulans.

Sebelumnya, Afghanistan telah mengalami beberapa serangan dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di sebuah masjid di Kabul. Beberapa di antaranya diklaim menjadi tanggung jawab kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan ISIL (ISIS).

Dalam berita lainnya, perusahaan listrik negara Afghanistan telah mengajukan banding ke misi yang dipimpin PBB untuk memberikan $90 juta untuk menyelesaikan tagihan yang belum dibayar kepada pemasok Asia Tengah. Adapaun batas waktu tiga bulan bagi Afghanistan untuk membayar tunggakan tersebut sudah lewat, sehingga listrik di negara itu dikhawatirkan akan diputus.

Sejak Taliban menguasai Afghanistan dari pertengahan Agustus, tagihan listrik belum dibayarkan ke negara-negara tetangga yang memasok sekitar 78 persen dari kebutuhan listriknya. Ini menimbulkan masalah lain bagi pemerintah baru yang bergulat dengan krisis uang tunai dalam perekonomian tersebut.

Menurut perusahaan listrik negara, Afghanistan biasanya membayar $20 juta hingga $25 juta per bulan secara total ke Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Iran. Kini, tagihan yang belum dibayar mencapai $62 juta. Menurut Plt CEO Da Afghanistan Breshna Sherkat, Safiullah Ahmadzai, negara-negara itu dapat memotong pasokan listrik "kapan saja mereka mau".

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts