Cegah Diskriminasi, WHO Bakal Himpun Donasi dan 'Borong' Obat COVID-19 Untuk Negara Miskin
Merck & Co. via AP
Dunia

Di tengah upaya pengendalian wabah COVID-19, kesenjangan akses pengobatan merupakan 'musuh utama'. Karena itulah WHO sudah mengantisipasi untuk distribusi obat-obatan COVID-19.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus mengoordinir upaya pengendalian pandemi COVID-19, termasuk mencegah terjadinya ketimpangan akses pengobatan. Karena itulah, beberapa kali WHO menyampaikan kritik lantaran sebagian besar vaksin COVID-19 malah dikuasai oleh negara-negara mampu, bahkan kini beberapa mulai menyuntikkan dosis ketiga alias booster ketika ada bangsa lain yang belum mendapat jatah sama sekali.

Dan dalam dokumen yang diwartakan Reuters, terungkap wacana WHO untuk mengamankan obat antivirus COVID-19 dengan harga USD10 per kursus. Draf ini merujuk pada ketersediaan pil eksperimental Molnupiravir dari Merck & Co., yang kini digadang-gadang bisa membantu mempercepat pengendalian wabah virus Corona.

Sebagai informasi, obat ini diklaim mampu mengobat pasien COVID-19 ringan dan terus dalam penyempurnaan formulasi. Beberapa negara pun sudah berlomba-lomba untuk bisa mengakses obat yang dikembangkan oleh produsen Ivermectin tersebut.

Adalah kelompok bernama Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) yang akan diserahi tanggungjawab mengamankan Molnupiravir untuk negara miskin tersebut. Mereka bekerja hingga September 2022 dengan tujuan mengirimkan sekitar 1 miliar tes COVID-19 ke negara miskin, mengadakan obat-obatan untuk mengobati 120 juta dari 200 juta pasien baru yang kemungkinan akan keluar dalam 12 bulan ke depan.


Langkah ini ditempuh WHO semata memastikan negara-negara miskin untuk [u=tetap bisa mendapat akses terhadap obat-obatan COVID-19 dengan harga relatif rendah. Lantas apa kata perwakilan ACT-A terkait dengan draf dokumen tersebut?

Perwakilan yang tak disebutkan namanya tersebut mengklaim bahwa draf masih dalam tahap konsultasi sehingga tidak akan mengomentari berkas apapun yang belum final. Dokumen juga sedianya dikirim ke para pimpinan global menjelang KTT G20 di Roma akhir Oktober 2021.

Mekanismenya, nanti ACT-A akan menghimpun donasi dari G20 maupun negara lain untuk pendanaan tambahan senilai USD22,8 miliar yang ditarget diperoleh sampai September 2022. Uang tersebut akan dialokasikan untuk membeli dan mendistribusikan vaksin, obat-obatan, serta tes COVID-19 ke negara-negara miskin demi mempersempit kesenjangan yang ada.

Biaya yang diajukan diestimasikan beradasarkan harga terperinci masing-masing produk, termasuk proses distribusinya. Namun sejauh ini donor baru menjanjikan USD18,5 miliar untuk program tersebut.

Kendati demikian, draf tersebut sebenarnya tak menyebutkan spesifik nama Molnupiravir. Mereka hanya menuliskan pengadaan "antivirus oral baru untuk pasien ringan atau sedang" yang akan dihargai USD10 per kursus.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts