CEO AstraZeneca Kaitkan Lonjakan Kasus COVID-19 di Eropa dengan Penolakan Vaksinnya
AP/Alastair Grant
Dunia
Vaksin COVID-19

CEO AstraZeneca Pascal Soirot mengklaim lonjakan COVID-19 yang melanda Eropa saat ini berkaitan dengan rendahnya serapan Vaksin COVID-19 Oxford/AstraZeneca di antara lansia wilayah tersebut.

WowKeren - Wilayah Eropa kini tengah menghadapi lonjakan kasus COVID-19, hingga WHO memperkirakan angka kematian di wilayah tersebut akan melampaui 2 juta per Maret 2022 mendatang. CEO AstraZeneca Pascal Soirot lantas mengklaim lonjakan COVID-19 yang melanda Eropa saat ini berkaitan dengan rendahnya serapan Vaksin COVID-19 Oxford/AstraZeneca di antara lansia wilayah tersebut.

Di program "Today" milik BBC Radio 4, Soirot mengatakan bahwa perbedaan kekebalan sel T antar-vaksin kemungkinan membuat mereka yang menerima dosis vaksin Oxford/AstraZeneca memiliki perlindungan kekebalan yang lebih tahan lama terhadap virus. Sebagai informasi, sel T adalah kelas sel imun yang mendidik sel B penghasil antibodi tentang sifat ancaman virus dan secara langsung membunuh sel yang terinfeksi.

"Sangat menarik ketika Anda melihat Inggris. Ada puncak infeksi yang besar tetapi tidak begitu banyak rawat inap dibandingkan dengan Eropa. Di Inggris Vaksin (Oxford/AstraZeneca) digunakan untuk memvaksinasi orang tua, sedangkan di Eropa orang mengira awalnya vaksin tidak bekerja pada orang tua," tuturnya. "Apa yang saya katakan adalah bahwa sel-T memang penting dan khususnya berkaitan dengan daya tahan respons, terutama pada orang yang lebih tua, dan vaksin ini telah terbukti merangsang sel-T ke tingkat yang lebih tinggi pada orang yang lebih tua. Tidak ada bukti apa pun ... kami tidak tahu. Tetapi kami membutuhkan lebih banyak data untuk menganalisis ini dan mendapatkan jawabannya."

Diketahui, Jerman merupakan negara Eropa pertama yang merekomendasikan untuk tidak memberi Vaksin Oxford/AstraZeneca kepada orang berusia di atas 65 tahun. Alasannya adalah kurangnya data kemanjuran Vaksin Oxford/AstraZeneca pada kelompok usia tersebut.


Negara-negara Eropa lain kemudian mengikuti langkah tersebut, seperti Italia, Prancis, Polandia, dan Swedia. Namun banyak juga negara yang kemudian menarik rekomendasi tersebut usai publikasi data kemanjuran lebih lanjut.

Usai European Medicines Agency (EMA) melaporkan kemungkinan hubungan antara vaksin Oxford/AstraZeneca dan kasus pembekuan darah, beberapa negara justru hanya memperbolehkan vaksin tersebut dipakai pada kelompok usia yang lebih tua. Karena pesan yang campur aduk ini, banyak orang Eropa yang awalnya enggan memakai Vaksin Oxford/AstraZeneca.

Adapun pernyataan Soirot yang mengaitkan rendahnya serapan Vaksin Oxford/AstraZeneca dengan lonjakan kasus COVID-19 di Eropa ditanggapi skeptis oleh sejumlah ahli. Pasalnya, memahami perbedaan tingkat infeksi dan rawat inap antar-negara masih diperumit oleh faktor-faktor seperti kapan dan sejauh mana pembatasan COVID-19 dicabut, variabilitas kesenjangan antara dosis pertama dan kedua, usia populasi dan prevalensi penyakit lain, serta munculnya varian baru.

"Membuat perbandingan antar negara menghadirkan banyak kesulitan dan sangat mungkin mengarah pada kesimpulan yang tidak dapat diandalkan," kata Dr Lance Turtle, dosen klinis senior dan dokter konsultan penyakit menular di University of Liverpool.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts