Kepala CDC Sebut Sebagian Besar Kasus Varian Omicron yang Dilaporkan di AS Tergolong Ringan
AP/Brynn Anderson
Dunia

Kepala CDC mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien COVID-19 varian Omicron di AS memiliki gejala ringan. Sebelumnya, WHO juga menuturkan gejala varian Omicron lebih ringan dibanding Delta.

WowKeren - Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara yang telah melaporkan temuan kasus COVID-19 varian Omicron. Sejauh ini, diketahui sudah ada lebih dari 40 orang di AS yang terinfeksi varian Omicron. Namun sebagian besar telah divaksinasi dan hanya sakit ringan.

Dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press, Dr. Rochelle Walensky selaku Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, mengatakan bahwa datanya sangat terbatas dan pihaknya saat ini tengah mengerjakan analisis yang lebih rinci tentang bentuk mutan baru dari virus COVID-19 untuk AS.

"Apa yang umumnya kita ketahui adalah semakin banyak mutasi yang dimiliki suatu varian, semakin tinggi tingkat kekebalan yang Anda butuhkan," tutur Walensky kepada The Associated Press, Rabu (8/12). "Kami ingin memastikan bahwa kami meningkatkan kekebalan semua orang, dan itulah yang memotivasi keputusan untuk memperluas panduan kami."

Lebih lanjut, Walensky mengatakan bahwa pasien yang terinfeksi varian Omicron sejauh ini tergolong penyakit ringan. Adapun gejala yang diderita adalah batuk, kemaceta, dan kelelahan. Sementara menurut pejabat CDC, sejauh ini ada satu orang yang dirawat di rumah sakit, tetapi belum ada laporan kematian akibat varian Omicron.


Walensky mencatat dalam beberapa kasus dapat menjadi semakin parah seiring dengan berlalunya waktu. Hal ini merupakan gambaran awal dan pertama dari infeksi Omicron di AS.

Walensky menuturkan kasus pertama varian Omicron di AS dilaporkan pada 1 Desember lalu. Hingga Rabu (8/12) sore, CDC telah mencatat 43 kasus varian Omicron. Sebagian besar pasien adalah orang dewasa muda, dan sekitar sepertiga merupakan pelaku perjalanan internasional.

"Lebih dari tiga perempat dari pasien tersebut telah divaksinasi, dan sepertiga memiliki booster," ungkap Walensky. "Booster membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk mencapai efek penuh, dan beberapa pasien telah menerima suntikan terbaru mereka dalam periode itu."

Walensky menambahkan, CDC belum membuat proyeksi tentang bagaimana varian tersebut dapat mempengaruhi perjalanan pandemi di AS. Menurutnya, saat ini CDC tengah mengumpulkan data.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa varian Omicron mudah kembali menginfeksi penyintas COVID-19. Akan tetapi, gejalanya tidak lebih parah dari varian Delta.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait