Untuk saat ini, WHO menyatakan bahwa Varian Delta masih terus mendominasi. WHO juga mengatakan bahwa masih perlu lebih banyak data untuk menentukan tingkat penularan dan tingkat keparahan Varian Omicron.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 09 Desember 2021 - 21:04 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa COVID-19 Varian Omicron kini telah ditemukan di 57 negara di seluruh dunia. Varian Omicron ini juga terus menyebar secara cepat di Afrika Selatan.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa memperkirakan Varian Omicron bisa menjadi varian dominan di benua tersebut dalam beberapa bulan. Namun untuk saat ini, WHO menyatakan bahwa Varian Delta masih terus mendominasi. WHO juga mengatakan bahwa masih perlu lebih banyak data untuk menentukan tingkat penularan dan tingkat keparahan Varian Omicron.
"Meskipun tampaknya ada bukti bahwa Varian Omicron mungkin memiliki keunggulan pertumbuhan dibandingkan varian lain yang beredar, tidak diketahui apakah ini akan diterjemahkan ke dalam peningkatan penularan," demikian kutipan laporan WHO.
Dari 899.935 sampel tes COVID-19 yang diurutkan dan diunggah ke database global dalam 60 hari terakhir, 897.886 di antaranya (99,8 persen) terkonfirmasi Varian Delta, sedangkan 713 (0,1 persen) adalah Varian Omicron.
Menurut laporan WHO, Afrika Selatan mencatat 62.021 kasus Varian Omicron dalam periode 29 November hingga 5 Desember. Angka tersebut naik 111 persen dari minggu sebelumnya.
Selain itu, jumlah pasien COVID-19 di Afrika Selatan yang dirawat di rumah sakit juga mengalami peningkatan 82 persen. Tercatat ada 912 pasien yang dirawat di rumah sakit dalam periode 28 November hingga 4 Desember, naik drastis dibanding sepekan sebelumnya yang hanya 502 pasien. Meski demikian, belum diketahui berapa banyak kasus di antaranya yang disebabkan oleh Varian Omicron.
Meski tingkat infeksi COVID-19 sebelumnya tinggi, Varian Omicron tampaknya menyebar dengan cepat di Afrika Selatan. Perkiraan menunjukkan antara 60 persen dan 80 persen dari populasi Afrika Selatan sebelumnya telah terinfeksi.
Data yang kini tersedia masih terbatas untuk bisa menentukan secara pasti apakah Varian Omicron mengubah tingkat keparahan penyakit. Namun WHO mengatakan meskipun tingkat keparahan Varian Omicron sama atau bahkan lebih rendah dari Delta, tingkat rawat inap diperkirakan akan meningkat jika ada lebih banyak orang yang terinfeksi.
"Informasi lebih lanjut diperklukan untuk sepenuhnya memahami gambaran klinis dari mereka yang terinfeksi Varian Omicron," tambah laporan tersebut.
(wk/Bert)