Sebagaimana ketentuan pemerintah, mereka yang berusia 12 tahun ke atas harus menunjukkan izin masuk vaksin untuk memasuki ruang publik mulai Februari 2022 nanti.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 10 Desember 2021 - 10:30 WIB
WowKeren - Demi menekan penyebaran virus corona pada umumnya pemerintah negara akan menggencarkan upaya vaksinasi. Jika dulu vaksin hanya diprioritaskan untuk orang lanjut usia dan dewasa maka seiring berjalannya waktu, remaja dan anak-anak pun juga diminta untuk mendapatkan suntikan tersebut.
Namun di Korea Selatan, upaya itu mendapatkan reaksi keras. Asosiasi orang tua di Korea Selatan melakukan protes pada Kamis (9/12) terhadap mandat pemberian vaksin untuk anak-anak yang bertujuan menahan penyebaran COVID-19 di kalangan remaja.
Sebagaimana ketentuan pemerintah, mereka yang berusia 12 tahun ke atas harus menunjukkan izin masuk vaksin untuk memasuki ruang publik. Beberapa di antaranya termasuk pusat pendidikan swasta, perpustakaan, dan kafe belajar. Usia pengecualian saat ini adalah 17 tahun.
Ketentuan itu akan berlaku efektif mulai Februari 2022 mendatang. Namun, mandat ini justru memicu kegemparan di antara beberapa orang tua yang menolak untuk memvaksinasi anak-anak mereka. Adapun alasan penolakan mereka adalah terkait potensi efek samping dan laporan infeksi terobosan vaksin.
Sebanyak 70 anggota asosiasi orang tua berkumpul di depan gedung Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea di kota Cheongju pada Kamis. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan minggu ini oleh kelompok aktivis lain menunjukkan 93 persen dari lebih dari 18.000 orang tua menentang gagasan mandat izin vaksin di kalangan para siswa.
Langkah pemerintah ini juga bukan tanpa alasan. Keputusan terkait mandat vaksin diambil setelah negara itu mencatat infeksi di kalangan remaja di Korea Selatan yang telah meningkat tajam setelah dimulainya kembali kelas tatap muka pada bulan November.
Dari 100.000 anak-anak, 210 infeksi dilaporkan selama empat minggu terakhir. Infeksi anak-anak menyumbang 8,3 persen dari total kasus dalam dua minggu terakhir dan 99,8 persen di antaranya tidak divaksinasi atau diimunisasi sebagian.
(wk/zodi)