Sejauh ini, masih ada sekolah yang belum membuka lantaran pandemi COVID-19, salah satunya di India. UNICEF lantas memperingatkan tentang learning loss apabila sekolah tidak segera dibuka.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 10 Desember 2021 - 14:34 WIB
WowKeren - Seperti yang diketahui, selama pandemi COVID-19 melanda banyak negara di dunia, memutuskan untuk mengalihkan kegiatan belajar secara daring di rumah. Hal ini tentunya membawa dampak tersendiri.
Di tengah kekhawatiran hilangnya pembelajaran atau biasa disebut sebagai learning loss, UNICEF mendesak agar India dan negara-negara tetangga lainnya untuk kembali membuka sekolah sepenuhnya. UNICEF mengatakan hal ini perlu dilakukan untuk mengatasi gangguan pendidikan lebih dari 400 juta anak-anak yang ruang kelasnya ditutup akibat pandemi COVID-19.
UNICEF lantas meperingatkan bahwa konsekuensi dalam pembelajaran di rumah dalam kurun waktu yang lama dapat berlangsung selama beberapa dekade. UNICEF mengungkapkan bahawa sekolah-sekolah di Bangladesh ditutup selama hampir 18 bulan dan merupakan salah satu negara terlama.
Sementara untuk negara-negara Asia Selatan lainnya, kata UNICEF, sekolah ditutup rata-rata dalam kurun waktu sekitar 31,5 minggu antara Maret 2020 hingga Agustus 2021. Hal ini disampaikan oleh George Laryea-Adjei selaku Direktur Regional UNICEF untuk Asia Selatan kepada kantor berita AFP.
"Ini terjadi di wilayah di mana tidak ada kondisi yang kuat untuk pembelajaran jarak jauh," tutur Laryea-Adjei, dilihat Jumat (10/12). "Akses ke internet dan perangkat sangat tidak merata, dan kami melihat kekurangan pembelajaran yang parah, terutama di antara komunitas miskin dan anak peremuan karena seringkali anak laki-laki lebih dipercaya dengan teknologi."
Maka dari itu, Laryea-Adjei mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan UNICEF, minta agar pemerintah di Asia Selatan untuk bisa segera melanjutkan pembelajaran tatap muka dengan aman dan memastikan bahwa siswa mengejar ketertinggalan, serta meningkatkan konektivitas. "Biaya kelambanan akan menjadi tenaga kerja yang lebih lemah dalam beberapa tahun, itu akan terlihat, konsekuensinya akan jangka panjang," ungkap Laryea-Adjei.
Sementara itu, kata Laryea-Adjei, menurut database UNESCO, sekolah-sekolah di India, Bangladesh, Nepal, dan Afghanistan hanya buka sebagian, sedangkan sekolah di Palestina dan Sri Lanka buka sepenuhnya. Dalam laporan tersebut, juga menerangkan bahwa kematian anak diproyeksikan meningkat karena gangguan pandemi terhadap layanan kesehatan telah menyebabkan jutaan anak belum divaksin.
(wk/tiar)