WHO Lihat Bukti Omicron Timbulkan Gejala Lebih Ringan, Jadi Tanda Akhir Pandemi COVID-19?
Pixabay/Alexandra_Koch
Dunia
Pandemi Virus Corona

WHO mengaku melihat lebih banyak bukti bahwa virus Corona varian Omicron menimbulkan gejala yang lebih ringan. Hanya saja tingkat keterisian rumah sakit harus terus dipantau.

WowKeren - Keparahan gejala yang ditimbulkan virus Corona varian Omicron adalah salah satu karakteristik yang terus berusaha diteliti oleh ilmuwan dunia. Namun seiring berjalannya waktu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku semakin melihat banyak bukti bahwa varian Omicron hanya menyerang saluran pernapasan bagian atas sehingga gejala yang ditimbulkan tidak separah varian sebelumnya.

"Kami melihat semakin banyak studi yang menunjukkan Omicron menginfeksi bagian atas tubuh. Tidak seperti varian lain yang bisa menyebabkan pneumonia parah," jelas Manajer Insiden WHO, Abdi Mahamud di Jenewa, Swiss, Selasa (4/1).

Mahamud bahkan menyebut hal ini berpotensi menjadi "berita baik". Hanya saja Mahamud juga mengingatkan ada hal lain yang harus diwaspadai, yakni kecepatan penularannya yang membuat varian Omicron bisa menjadi varian dominan dalam beberapa pekan ke depan. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi negara-negara dengan cakupan vaksinasi COVID-19 yang rendah.



Kesimpulan ini disampaikan dengan melihat perkembangan data COVID-19 di negara-negara selatan Afrika yang terlebih dahulu "diguncang" varian Omicron. Kendati demikian, Mahamud mengingatkan bahwa negara-negara ini mempunyai populasi muda yang banyak sehingga bisa jadi tidak munculnya keparahan gejala karena yang diinfeksi masih memiliki tingkat antibodi yang baik.

Sementara itu, penularan yang tinggi juga harus diwaspadai, terutama terkait dengan kapasitas rumah sakit di sebuah wilayah. Yang belakangan menjadi sorotan adalah tambahan hingga 1,08 juta kasus COVID-19 dalam sehari di Amerika Serikat, yang diklaim tidak diikuti dengan kenaikan jumlah pasien rumah sakit secara signifikan.

"Saat ini lebih relevan untuk fokus pada jumlah pasien yang perlu perawatan rumah sakit daripada jumlah kasus," ujar pakar kesehatan top AS, Dr Anthony Fauci, kepada ABC pada Minggu (2/1). Pasalnya dengan tambahan kasus harian yang begitu tinggi, tingkat keterisian rumah sakit pekan lalu masih di kisaran rata-rata 14.800 per hari.

Direktur Pusat Kesehatan Global di Universitas Columbia, Dr Wafaa El-Sadr, juga menyepakati pendapat Fauci. "AS harus mengubah fokusnya, terutama di era vaksinasi, untuk benar-benar fokus dalam upaya pencegahan penyakit, kerusakan, atau kematian, ketimbang menghitung (kasus baru)," tutur El-Sadr, dikutip dari AP News, Rabu (5/1).

(wk/elva)


You can share this post!


Related Posts