In-Depth: Jangan Dianggap Sepele, Apa Itu Gangguan Mental OCD dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
PlusLexia.com/Jesper Sehested
Health
Aliando Idap OCD Extreme

Orang yang hidup dengan OCD biasanya mengalami obsesi, atau pikiran berulang yang tidak diinginkan yang memicu dorongan ekstrem untuk mengulangi perilaku tertentu.

WowKeren - Publik Tanah Air baru-baru ini dikejutkan dengan pengakuan artis Aliando Syarief alias Aliando yang menyebut bahwa dirinya menderita gangguan mental obsessive compulsive disorder (OCD). Melansir Medicinet, OCD terjadi sebagian kecil pada populasi di seluruh dunia.

Usia rata-rata untuk memulai OCD adalah 19 tahun, dan biasanya dimulai pada saat individu berusia 30 tahun. Pada umumnya, orang dengan gangguan OCD juga berisiko menderita gangguan kecemasan. OCD diklasifikasikan sebagai salah satu dari sejumlah gangguan obsesif kompulsif.

Obsesi yang dimaksud ini biasanya berupa pengulangan, mengganggu, dan tidak ada habisnya, serta pikiran yang tidak diinginkan, impuls, maupun gambar yang dapat menyebabkan kecemasan parah. Sedangkan kompulsi adalah perilaku ritualistik atau berulang atau tindakan mental yang dilakukan oleh individu dengan OCD, karena obsesi mereka atau menurut aturan yang kaku.

(wk/zodi)

1. OCD Merupakan Gangguan Mental Kronis


OCD Merupakan Gangguan Mental Kronis

Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) adalah kondisi kesehatan mental kronis yang melibatkan obsesi, kompulsi, atau keduanya. Menurut American Psychiatric Association, sekitar 2 hingga 3 persen orang Amerika Serikat memiliki kondisi ini. Orang yang hidup dengan OCD biasanya mengalami obsesi, atau pikiran berulang yang tidak diinginkan yang mendorong dorongan ekstrem untuk mengulangi perilaku tertentu.

Gangguan ini mungkin dianggap sepele bagi sebagian orang, ketika melihat mereka memeriksa ulang hanya untuk memastikan mereka telah mengunci pintu depan atau mematikan kompor. Tak sedikit dari orang yang menderita OCD mengenali pikiran dan keyakinan yang memicu dorongan mereka sebagai hal yang tidak logis, atau setidaknya sangat tidak mungkin. Namun, mereka tetap melakukannya untuk merasa lebih tenang.

Namun, perlu dicatat bahwa OCD lebih dari sekadar preferensi pribadi terhadap kebersihan atau ketertiban. Gejala OCD mengambil bagian penting dari hari seseorang dan mengganggu aktivitas rutin mereka. Orang dengan OCD sering tahu bahwa obsesi dan kompulsi tidak didasarkan pada kenyataan, tetapi mereka masih merasa terdorong untuk menindaklanjutinya.

2. Penyebabnya Tidak Jelas, Namun Kerap Dikaitkan dengan Riwayat Keluarga


Penyebabnya Tidak Jelas, Namun Kerap Dikaitkan dengan Riwayat Keluarga
Medical News Today

Pada dasarnya, para ahli sepakat bahwa tidak ada penyebab yang jelas untuk OCD. Namun, riwayat keluarga dan kemungkinan ketidakseimbangan kimia di otak berkontribusi untuk mengembangkan penyakit. Orang yang memiliki kerabat dengan penyakit itu memiliki risiko lebih tinggi terkena OCD. Namun, banyak juga penderita OCD yang tidak memiliki riwayat keluarga semacam itu.

National Institute of Mental Health menilai bahwa perkembangan dan gangguan yang tidak teratur di area otak tertentu juga dikaitkan dengan kondisi tersebut. Beberapa bukti menunjukkan OCD mungkin berhubungan, sebagian, dengan bagaimana otak merespons serotonin, hormon yang mengatur suasana hati.

Ketidakseimbangan serotonin kimia di otak dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan ini. Pengalaman tertentu dalam kehidupan yang menyebabkan stres seperti menjadi korban pelecehan seksual masa kanak-kanak, merupakan faktor risiko untuk mengembangkan OCD selama masa dewasa.

3. Melibatkan Dua Jenis Gejala Utama: Obsesi dan Kompulsi


Melibatkan Dua Jenis Gejala Utama: Obsesi dan Kompulsi

Ada dua jenis gejala pada orang dengan gangguan OCD yakni obsesi dan kompulsi. Meski banyak orang dengan OCD mengalami obsesi dan kompulsi, tetapi beberapa orang hanya mengalami salah satunya. Gejala ini sifatnya tidak sementara, namun berkepanjangn dan dalam skenario yang lebih buruk, bisa mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

Isi pikiran obsesif dapat sangat bervariasi, namun pada umumnya meliputi kekhawatiran tentang kuman, kotoran, atau penyakit, rasa ingin menyelaraskan barang atau membuatnya simetris, dan rasa khawatir berlebihan akan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Pikiran yang tidak diinginkan dan mengganggu ini terus datang kembali, tidak peduli seberapa keras penderitanya mencoba untuk mengabaikan atau menekannya.

Sedangkan contoh perilaku kompulsif OCD meliputi menghitung atau mengulangi frasa tertentu, menyentuh sesuatu beberapa kali, mencari kepastian dari orang lain, atau mengumpulkan barang-barang tertentu atau membeli beberapa barang yang sama. Kompulsi dianggap muncul sebagai respons terhadap obsesi. Orang dengan OCD mungkin merasa perlu untuk mengulangi tindakan ini beberapa kali, atau sampai semuanya tampak benar.

4. Segera Konsultasi ke Dokter sebagai Penanganan Awal


Segera Konsultasi ke Dokter sebagai Penanganan Awal

Langkah pertama yang harus dilakukan ketika merasakan gejala-gejala OCD adalah berkonsultasi dengan dokter atau terapis. OCD bisa ditangani dengan pengobatan tertentu atau melalui terapi. Beberapa obat psikotropika yang berbeda dapat membantu mengurangi gejala OCD seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI).

SSRI terkadang memerlukan waktu antara 8 hingga 12 minggu untuk memperlihatkan efek. Oleh sebab itu, tetaplah minum obat sesuai petunjuk meskipun tidak segera melihat perbaikan. Terapi juga terkadang direkomendasikan untuk menangani gangguan ini.

Pendekatan terapi yang direkomendasikan untuk OCD meliputi terapi perilaku kognitif (CBT). CBT dapat membantu penderita OCD belajar mengidentifikasi dan membingkai ulang pola pikiran dan perilaku yang tidak diinginkan atau negatif. Selain itu, terapi kognitif berbasis kesadaran juga bisa menjadi opsi mengingat hal ini melibatkan belajar keterampilan perhatian untuk mengatasi kesusahan yang dipicu oleh pikiran obsesif.



You can share this post!


Related Posts