Kafe yang Muncul di 'Tomorrow' dan 'Yumi's Cells' Ini Mendadak Dipermasalahkan, Apa Alasannya?
TV

Kafe Mauritius Brown yang muncul di dua drama populer Korea Selatan terjerat dalam kontroversi serius. Simak alasan dan penjelasan lengkapnya dalam berita di bawah ini.

WowKeren - Kafe Mauritius Brown yang muncul di drama "Tomorrow" dan "Yumi's Cells" tengah menjadi sorotan. hal ini bermula ketika penulis dan produser Ray Liu menemukan kejanggalan soal kafe tersebut usai menonton "Tomorrow".

Ray Liu mengatakan bahwa kafe Mauritius Brown sangat bermasalah karena diduga melakukan blackfishing dan apropriasi budaya. Blackfishing adalah istilah modern yang digunakan untuk menunjuk orang kulit putih yang memakai riasan dan berdandan layaknya orang kulit hitam.

Blackfishing adalah jenis rasisme interpersonal yang menggambarkan orang kulit hitam sebagai stereotip dan menggambarkan budaya kulit hitam sebagai produk. Sedangkan apropriasi budaya adalah tindakan mengadopsi unsur-unsur budaya yang bukan milik kita. Dengan demikian, keduanya menghasilkan penggambaran orang lain secara ofensif dan stereotip.

Ray Liu menyatakan, "Aku menonton drama 'TOMORROW' dan aku melihat iklan untuk Mauritius Brown, sebuah kafe di Korea Selatan. Logo siluet wanita kulit hitam dengan afro membuatku merasa aneh. Tidak ada satu pun orang kulit hitam yang muncul di serial ini. Aku melakukan beberapa penggalian... Dan tentu saja, itu adalah blackfishing dan cultural appropriation."

Ray Liu kemudian menunjukkan bahwa kafe ini pertama kali ditampilkan di "Yumi's Cells" dan dipromosikan sebagai lokasi yang instagramable. Yang membuatnya semakin meresahkan adalah kafe tersebut tidak memiliki ikatan otentik dengan budaya orang kulit hitam.

Penamaan kafe ini terinspirasi dari negara Mauritius yang terletak di Afrika bagian Timur, dan pemilik menambah "Brown" di akhir. Namun, telah dikonfirmasi bahwa tidak ada pendiri atau pemilik kafe Mauritius Brown yang berkulit hitam sebab mereka semua adalah warga asli Korea Selatan. Ray Liu akhirnya menyimpulkan bahwa mereka mendapat keuntungan dengan "merampas" budaya orang lain.


Ray Liu menjelaskan, "Betul sekali. Mauritius Brown dimiliki, dioperasikan dan dikelola hanya oleh orang Korea Selatan, tanpa orang-orang kulit hitam yang terlibat di dalamnya. Ini adalah CEO, Park Jong Won, yang benar-benar membuat bisnis dengan citra perempuan kulit hitam."

Kafe yang Muncul di \'Tomorrow\' dan \'Yumi\'s Cells\' Ini Mendadak Dipermasalahkan, Apa Alasannya?

Source: Koreaboo

Kritikan ini akhirnya ditanggapi oleh CEO kafe tersebut, Park Jong Won. Dia mengungkapkan bahwa gula merah yang digunakan untuk teh susu di kafe tersebut berasal dari Mauritius. Namun dia menekankan bahwa itu adalah "merek Korea murni yang tidak membayar royalti luar negeri."

CEO Park Jong Won menjelaskan, "Teh susu premium Seojin kami, Mauritius Brown, yang menggunakan gula merah yang dibuat dari Mauritius, adalah arti di balik nama perusahaan kami. Dan itu merupakan merek Korea murni yang tidak membayar royalti luar negeri."

Namun penjelasan tersebut tak lantas membuat Ray Liu terdiam. Dia tetap mempermasalahkan beberapa hal, termasuk "pencurian" gaya rambut ikonik ala wanita Afrika.

Netizen yang lain bahkan menunjukkan bahwa Mauritius Brown tidak hanya mengambil untung dari perampasan budaya, namun logonya kemungkinan menjiplak produk perawatan rambut di tahun 1970-an. Penggemar berkulit hitam yang awalnya senang dengan kehadiran kafe tersebut juga merasa sangat marah atas fakta ini.

Selain itu, ada pula yang menunjukkan betapa meresahkannya kafe Korea Selatan yang menjual estetika dan rupa perempuan berkulit hitam. Padahal, orang berkulit hitam sering tidak dihormati dan didiskriminasi di Korea Selatan.

(wk/eval)


You can share this post!


Related Posts