Jokowi Di KTT COVID-19: Ketahanan Kesehatan Dunia Tak Cukup Kuat, Dorong Kerja Sama Atasi Pandemi
presidenri.go.id
Nasional
Pandemi Virus Corona

Presiden Jokowi menghadiri KTT Global COVID-19 yang diselenggarakan di Washington DC pada Kamis (12/3) kemarin secara virtual. Dalam kesempatan itu, Jokowi memaparkan terkait pandemi di dunia.

WowKeren - Pada Kamis (12/3) kemarin, Presiden Joko Widodo diketahui menghadiri KTT Global COVID-19 di Washington DC secara virtual. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi lantas menyampaikan poin-poin terkait dengan perkembangan pandemi COVID-19 di dunia.

Jokowi mengatakan bahwa pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga bagi dunia. Jokowi bahkan menyebut ketahanan kesehatan dunia terhadap pandemi tidak cukup kuat.

"Akibatnya harga yang harus kita bayar sangatlah mahal, jutaan orang yang kehilangan nyawanya dan perekonomian dunia pun mengalami keterpurukan," ujar Jokowi seperti dalam video yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (13/5).

Maka dari itu, dalam kesempatan yang sama, Jokowi mendorong semua negara untuk bekerja sama dalam mengatasi pandemi COVID-19, serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

"Untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70 persen penduduk setiap negara," terang Jokowi. "Momentum turunnya jumlah kasus saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap COVID-19. Vaksin harus secepatnya menjadi vaksinasi."



Jokowi menyebut bahwa kolaborasi di antara negara dunia harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia. Jokowi pun mengatakan dalam pembangunan arsitektur kesehatan dunia itu ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan.

Pertama, kata Jokowi, akses kesehatan inklusif harus disiapkan. "Seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus memiliki akses layanan kesehatan dasar, infrastruktur kesehatan dasar harus memadai dan siap menghadapi pandemi," jelas Jokowi.

Jokowi pun menuturkan di tingkat global, setiap negara besar maupun kecil, kaya maupun miskin, harus memiliki akses yang setara terhadap solusi kesehatan. Kedua, akses pembiayaan kesehatan harus memadai. Artinya, perlu mekanisme pembiayaan baru yang melibatkan negara donor dan pembiayaan multilateral.

"Tidak semua negara memiliki sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur kesehatannya, dukungan pembiayaan kesehatan harus dilihat sebagai sebuah investasi dan tanggung jawab bersama mencegah pandemi," beber Jokowi.

Ketiga, Jokowi mengusulkan pemberdayaan. Jokowi menuturkan bahwa kerja sama antarnegara dalam menangani pandemi COVID-19 adalah hal utama. "Kolektif capacity harus diupayakan dan kerja sama antarnegara menjadi kuncinya," lanjut Jokowi.

"Kerja sama riset, kerja sama transfer teknologi dan akses ke bahan mentah harus diperkuat. Tidak boleh ada monopoli rantai pasok industri kesehatan, diversifikasi pusat produksi obat, vaksin, alat diagnostik dan terapeutik harus dilakukan," tutup Jokowi. "Dengan kapasitasnya Indonesia siap menjadi hub produksi dan distribusi vaksin di kawasan."

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts