Sutradara Buka Suara Soal Curhatan Pemeran Hantu 'KKN di Desa Penari' Dibayar Rp 75 Ribu
Instagram/mdpictures_official
Film
Film KKN Di Desa Penari

Sutradara 'KKN di Desa Penari' akhirnya buka suara soal curhatan pemeran hantu hanya dibayar Rp 75 ribu. Ia juga menjelaskan soal keluhan lain dari pemeran hantu tersebut.

WowKeren - Publik belum lama ini dihebohkan dengan curhatan salah satu ektras dalam film "KKN di Desa Penari". Film itu tentu membutuhkan banyak ektras untuk memerankan hantu warga desa. Ada sekitar 50 warga Dusun Ngluweng Kalurahan Ngleri Kapanewon Playen Gunungkidul yang menjadi pemeran hantu di film tersebut.

Salah satu pemeran hantu, Subardo mengungkapkan pengalamannya. Subardo mengungkapkan bahwa ia harus berjuang sehari semalam. Make up yang digunakan untuk menutup wajahnya juga tak boleh dihapus dalam 24 jam. "Saya itu didapuk (diminta) jadi hantu. Ternyata capek ikut syuting itu," curhatnya.

Subardo juga mengungkapkan bahwa ia tak boleh mengedip dan memejamkan mata saat proses syuting berlangsung. Ia juga dibayar Rp 75 ribu saat menjadi pemeran hantu.

"Bayangkan mata tak boleh berkedip dalam waktu yang lama. Kami dibayar Rp 75 ribu sekali pengambilan gambar," tuturnya.

Terkait curhatan tersebut, Sutradara film "KKN di Desa Penari", Awi Suryadi menegaskan bahwa semua kabar itu tak sepenuhnya benar. Namun, ia membenarkan bahwa para ektras yang make up harus berada dalam bus ber-AC.



"Yang bisa saya konfirmasi 100 persen, itu enggak ada mereka enggak boleh hapus make up selama 24 jam. Karena kita syuting adegan di sanggar itu hari terakhir. Saya ingat banget hari terakhir, kita selesai syuting sekitar jam 10 malam, lalu orang ektras dipanggil untuk make up jam 10 pagi. Benar mereka make up, dianjurkan dalam bus ber-AC," ungkap Awi Suryadi, Jumat (20/5) dilansir dari Kumparan.

Meski begitu, Awi menuturkan bahwa para ektras masih diizinkan untuk keluar dari bus. Ia pun menjamin bahwa pemakaian make up hanya 12 jam saja, bukan 24 jam.

"Mereka keluar, untuk cek HP-lah, merokoklah, ke toiletlah. Itu normal. Cuma dianjurkan sering dalam bus, supaya make up-nya enggak luntur. Dari mereka di-calling untuk make up sampai adegan itu, totalnya pun 12 jam, bukan 24 jam. Enggak ada 24 jam, pasti saya jamin," tutur Awi.

Sementara soal bayaran Rp 75 ribu, Awi mengaku tak mengetahui secara pasti tentang hal tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa para pemeran hantu tidak cuma dibayar Rp 75 ribu per hari. Awi pun menjelaskan bahwa biasanya pemeran ektras dibayar setiap adegan, bukan per hari.

"Bayaran saya enggak bisa konfirmasi angkanya berapa, enggak semuanya sutradara tahu. Tapi saya sudah ngobrol dengan MD dan tim casting yang in charge, dia bilang, 'Mas Awi, angka yang keluar dari kita bukan segitu, bukan Rp 75 ribu, lebih dari Rp 75 ribu. Tapi karena kita kerja sama dengan agensi lokal, jadi mungkin ada potongan'," ujar Awi.

"Itu untuk satu adegan. Yang diklaim Rp 75 ribu untuk seharian. Enggak loh, itu untuk satu adegan. Misalkan hari ini saya perlu penduduk adegan ibu-ibu lewat bawa kayu. Itu sudah itu doang, paling setengah jam syuting, enggak seharian. Enggak ada tuh (bayaran) angka sekian untuk seharian. Kita seharian enggak selalu syuting pakai ektras," pungkas Awi.

(wk/dess)


You can share this post!


Related Posts