Sri Lanka Kini Izinkan Wanita yang Lebih Muda Bekerja ke Luar Negeri Demi Perbaiki Krisis
AFP/ISHARA S. KODIKARA
Dunia

Sri Lanka membutuhkan dolar untuk membangkitkan kembali perekonomian. Sri Lanka pun mengurangi usia minimum perempuan yang bisa bekerja ke luar negeri sebagai upaya mengatasi krisis ekonomi.

WowKeren - Krisis di Sri Lanka semakin parah. Pada Selasa (21/6), Sri Lanka yang dilanda krisis memutuskan untuk mengurangi menjadi 21 tahun sebagai usia minimum di mana perempuan dapat pergi ke luar negeri untuk bekerja dan mendapatkan dolar yang sangat dibutuhkan untuk ekonomi yang bangkrut.

Kolombo memberlakukan batasan usia pada wanita yang bekerja di luar negeri pada tahun 2013. Hal itu setelah pengasuh yang berasal dari Sri Lanka berusia 17 tahun dipenggal di Arab Saudi atas kematian seorang anak dalam perawatannya.

Menyusul kemarahan atas eksekusi tersebut, pemerintah pun mengeluarkan kebijakan bahwa hanya wanita berusia di atas 23 tahun yang diizinkan pergi ke luar negeri. Sedangkan untuk Arab Saudi usia minimum ditetapkan pada 25 tahun.

Namun dengan Sri Lanka yang kini berada dalam krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan, pemerintah pada Selasa (21/6) melonggarkan aturan terkait usia minimun tersebut. Termasuk untuk Arab Saudi.



"Kabinet menteri menyetujui keputusan untuk menurunkan usia minimum menjadi 21 tahun untuk semua negara mengingat kebutuhan untuk meningkatkan kesempatan kerja asing," kata juru bicara Bandula Gunawardana kepada wartawan.

Pengiriman uang dari warga Sri Lanka yang bekerja di luar negeri telah lama menjadi sumber utama devisa negara. Menghasilkan sekitar US$7 miliar (S$9,60 miliar) per tahun.

Jumlah itu diketahui ikut turun selama pandemi virus corona melanda menjadi $5,4 miliar pada tahun 2021 dan diperkirakan turun di bawah $3,5 miliar tahun ini karena krisis ekonomi. Lebih dari 1,6 juta orang dari negara berpenduduk 22 juta itu bekerja di luar negeri, terutama di Timur Tengah.

Cadangan mata uang asing negara Asia Selatan sangat rendah sehingga pemerintah telah membatasi impor bahkan untuk kebutuhan pokok termasuk makanan, bahan bakar dan obat-obatan.

Krisis ekonomi yang terjadi di Sri Lanka tampaknya terus memburuk. Sebelumnya, kondiri krisis menyebabkan Sri Lanka menutup sekolah dan kantor pemerintah imbas kurangnya bahan bakar

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts