Para Wanita di Papua Nugini Dituding Sebagai Penyihir, Kerap Diburu Hingga Mendapat Perlakuan Kasar
pexels.com/RODNAE Productions
Dunia

Para wanita yang ada di salah satu desa di Papua Nugini dituding merupakan penyihir. Para penduduk desa pun kerap melakukan perburuan terhadap wanita yang dituduh sebagai penyihir tersebut.

WowKeren - Penyiksaan dan penyerangan brutal terhadap wanita yang dituduh melakukan sihir di Papua Nugini disebut tidak dihukum. Sedangkan inisiatif untuk mengakhiri kejahatan hanya menghasilkan sedikit kemajuan.

Melansir Al Jazeera, dikatakan sebuah laporan tentang laki-laki yang menggunakan parang yang menebas orang-orang yang tidak bersalah, serangan pembakaran, kekerasan seksual terhadap anak perempuan, dan pemindahan ribuan orang selama pemilihan bulan lalu di Papua Nugini telah menuai kecaman internasional.

Akan tetapi, bentuk kekerasan yang lebih berbahaya terus melanda negara tersebut. Adapun kekerasan terkait tuduhan sihir (SARV) itu, penyiksaan publik dan pembunuhan perempuan yang dituduh melakukan sihir.

Sementara itu, kasus profil tinggi terbaru mengikuti kematian yang tidak dapat dijelaskan, kemungkinan besar karena serangan jantung atau stroke, dari raja truk Jacob Luke saat berjalan-jalan di hutan semak di Enga, sebuah provinsi berbatu dan kurang berkembang di dataran tinggi Papua Nugini, yang mayatnya ditemukan oleh pekerja telekomunikasi pada 21 Juli.

Kemudian, anggota suku Luke di desa Lakolam di Provinsi Enga memilih sembilan wanita, termasuk dua berusia enam puluhan dan satu yang sedang hamil, dan menuduh mereka "kaikai lewa" atau diam-diam mengeluarkan jantung korban dan memakannya untuk mendapatkan kejantanan. Karena merasa ketakutan, salah satu wanita lantas mengakui tuduhan tersebut, lalu kelompok tersebut disiram bensin dan dibakar.


Sementara lima dari wanita tersebut kemudian dipilih untuk disiksa yang terdiri dari diikat telanjang di antara dua tiang dan diserang secara vagina dengan besi panas sambil diawasi oleh kerumunan kebanyakan pria yang juga termasuk beberapa anak-anak dan anggota keluarga korban.

Ketika berita penyiksaan tersebut menyebar ke seluruh provinsi, enam petugas polisi bersama seorang wakil dari Gereja Katolik pun pergi ke desa tersebut untuk menyelamatkan para wanita. Akan tetapi, upaya ini gagal, yang mana saat tiba di lokasi, petugas polisi dan wakil dari Gereja Katolik terlibat dalam ketegangan dengan penduduk desa yang bersenjata.

Tak menyerah, polisi kembali melakukan upaya penyelamatan, namun hanya berhasil menyelamatkan lima wanita lantaran sisanya sudah meninggal. "Mereka disiksa dari Jumat pagi hingga tengah malam dan kehilangan banyak jaringan tubuh dan darah, sehingga hanya lima dari mereka yang selamat," ujar Koordinator SARV Gereja Katolik di Enga, Dickson Tanda kepada Al Jazeera, dilansir pada Selasa (16/8).

Dickson sendiri diketahui telah membantu menyelamatkan lebih dari 600 wanita dan anak-anak yang dituduh melakukan sihir sejak 2015. Ia mengatakan bahwa perburuan penyihir itu menjadi lebih biadab dan sering terjadi.

"Penyelamatan itu akhir pekan lalu," terang Dickson. "Akhir pekan ini baru saja kami menyelamatkan wanita lain yang dituduh melakukan sihir. Mereka menyiksanya, memotongnya dengan parang di sekujur tubuhnya dan membakar kulitnya."

(wk/tiar)

You can share this post!

Artikel Terkait